of 18

1339-2608-1-SM

Description
dty
Transcript
  Metode Penelitian Kualitatif Dalam Metodologi Penelitian Ilmu Hukum 55 METODE PENELITI N KU LIT TIF D L M METODOLOGI PENELITI N ILMU HUKUM   Sulistyowati Irianto This article aims to portray the role o the empiric legal research methodology specifically qualitative in a typology framework o the legal research methodology. This explanation answers the uncertainties amongst the legal academia regarding the correlation between the doctrinal legal research methodology and the empiric legal research methodology as to the context where both these approaches can be practiced. By understanding these approaches within the legal research methodology the legal academia is expected to conduct researches on the legal phenomenon in a more general bur contextual manner. While conducting a research with a contextual approach the methodological approach is greatly influenced by which legal characteristic that the legal academia tends to chose in accordance to the context o the problem r be researched. Pendahuluan Pertanyaan yang sering muncul sampat saat mi, khususnya di kalangan sarjana hukum adalah, seperti apakah penelitian hukum yang sesungguhnya. Dalam pertanyaan itu tersirat maksud yang hendak mengatakan bahwa penelirian hukum bukanlah yang selal a ini sudah dicemari oleh penelitian ill u so sial. Kel udian berkembanglah has rat terpendal11 untuk mencari bentuk dari penelitian hukum yang dirasa paling tepat, sangat spesifik, mel11punyai ciri khas sendiri, dan berbeda dengan penelitian ilmu sosial. Disampaikan dalam Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Universitas Indonesia Jakarta 8 2 Maret 2001 Nomor 2 Tahun XXXII   56 Hukum dan Pembangunan Makalah ini bempaya untuk menjawab permasalahan di atas, dari perspektif pendekatan ilmu-ilmu sosial terhadap hukum, khususnya antropologi hukum, dengan pendekatannya yang khas, yaitu pendekatan kualitatif. Oalam hal ini akan ditunjukkan bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial telah memberikan sumbangan metodologis yang berarti dalam pengkajian masalah-masalah hukum. Beberapa contoh dari metode yang biasa digunakan dalam penelitian antropologi hukum akan diberikan. Kemudian akan dikemukakan bagaimanakah penerapan metode tersebut dalam penelitian hukum empirik yang kualitatif. Namun sebelum sampai pada inti diskusi tersebut, akan diuraikan terlebih dahulu persoalanpersoalan mendasar yang membingungkan sebagian sarjana hukum dalam hal memposisikan dirinya dalam suatu meta metodologi pada umumnya. Kekhawatiran sebagian sarjana hukum terhadap tercermarnya bidang ilmu hukum oleh pendekatan ilmu sosial nampaknya hams diluruskan terlebih dahulu -Kekhawatiran tersebut terjadi karena adanya kesalah pahaman. Sebagian kalangan sarjana hukum memandang bahwa pendekatan ilmu sosial semata-mata adalah pendekatan kuantitatif yang ciri khasnya adalah melakukan pengukuran, terikat pada prinsip obyektifitas, pengujian hipotesa, keterwakilan dan universalitas secara ketal. Bila demikian halnya, kekhawatiran kalangan sarjana hukum tersebut sangat dapat dipahami. Kekhawatiran di atas semakin dapat dimengerti karena dalam beberapa hal telah menimbulkan dampak yang menyesatkan. Misalnya, pernah terjadi proposal penelitian seorang sarjana hukum ditolak untuk diberi dana hanya karena metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan atau penelitian dokumen perundang undangan (Ibrahim, 1995: vi). Oapat dibayangkan bahwa dalam pandangan orang yang menilai proposal tersebut, proposal penelitian ilmiah haruslah ya ng disusun berdasarkan komponen-komponen tertentu yang pad a umumnya sudah dipandang sebagai standar baku di Indonesia. i dunia akademik dalam konteks Indonesia pada umumnya yang dianggap standar baku dalam penelitian adalah karakteristik tertentu yang dianggap seyogyanya melekat pad a penelitian kuantitatif, yaitu ada pengukuran, ada output berupa angka, dan label-label yang seragam terhadap komponen-komponen dalam penulisan proposal atau laporan. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahamam mengenai metodologi secara mendalam, yang nampaknya 2 Kekhawatiran tersebut dapat dibaca misalnya dalam buku yang ditulis oleh Suna   yati Hartono Kembali ke Metode Pellelilian u um   Fakultas Hukum Unpad 1985. April - Juni 2 2  Metode Penelitian Kualitatij Dalam Metodologi Penelitian Ilmu Hukum 57 menjadi problem yang umum di Indonesia, bahkan di kalangan akademik. Mengenai bagaimanakah esensi dari proposal penelitian yang sesungguhnya menurut kaidah-kaidah ilmu pengetahuan atau metodologi kiranya harus ditampung dalam diskusi tersendiri. Saya sendiri termasuk orang yang setuju seratus persen bahwa masalah-masalah dan gejala-gejala hukum, tidak dapat direduksi ke dalam variael-variabel yang dapat diukur. Mengapa? Masalah-masalah dan gejala hukum demikian kompleksnya, dan sangat berkaitan dengan manusia. Hukum tidaklah bekerja atau beroperasi dalam ruang hal11pa yang terisolasi, tetapi berada dalam masyarakat. Hukum dalam proses pembuatannya adalah hasil dari bargaining politik dari para pembuat undang-undang, kemudian dalam implementasinya akan melalui interpretasi para hakim, pengacara, polisi, pejabat, dan warga l11asyarakat sendiri. Dalam melakukan interpretasi tersebut orang sangat dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, sosial, perhitungan untung-rugi, pendeknya vested interest Seorang sosiolog hukul11 Lawrence Friedman, l11enyebut kepentingan-kepentingan tersebut sebagai sub legal culture Friedman, 1975). Oleh karena itu mengkaji hukum tidak bisa dilakukan secara terisolasi, memisahkannya dari l11asyarakat di mana hukum itu berada. Oleh karena berbicara mengenai manusia. perilaku hukum manusia, dan bagaimana manusia menginterpretasikan hukum, maka konsekuensinya adalah sulit untuk mengadakan pengukuran kuantitatif mengenai gejala-gejala atau permasalahan hukum. Untuk mengatasai persoalan di atas, kiranya metode penelitian kualitatif yang biasa digunakan oleh para antropolog hukum dapat diketengahkan. Sejauh ini sebagian dari sarjana hukum yang berpendapat bahwa gejala-gejala hukum dapat diukur, telah melahirkan metode pendekatan yang mereka beri nama jurimetri Soemitro, 1994). Pemikiran ini sekarang dikembangkan dengan menggunakan penghitungan statistik yang semakin diakomodasi oleh program-program tertentu dalam komputer Soemitro, 1984: 3). Melihat cara kerja dari pendekatan ini, kiranya dapat diduga bahwa pendekatan ini mendapat pengaruh yang kuat dari pendekatan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa terdapat dua kubu pemikiran dalam pendekatan ilmu-ilmu sosial terhadap studi hukum, yaitu pendekatan kuantitatif yang antara lain berkembang menjadi jurimetri di satu sisi, dan pendekatan kualitatif di sisi yang lain. Menjadi jelas pula bahwa ketidaksetujuan kalangan sarjana hukum terhadap pendekatan kuantitatif dalam ilmu hukum, seharusnya dialamatkan kepada pendekatan Nomor 2 Tahun XXXII  158 ukum dan Pembangunan jurimetri ini bukan kepada pendekatan ilmu sosial terhadap hukum pada umumnya. Menurut hemat saya perdebatan mengenai pendekatan mana yang paling tepat untuk dapat menjelaskan permasalahan hukum yang dikaji tidaklah dapat dijawab secara sederhana. Pendekatan manapun yang akan digunakan adalah sangat tergantung pada apa yang menjadi permasalahan penelitian. Penggunaan suatu pendekatan ditentukan oleh penjelasan apa yang dibutuhkan oleh peneliti untuk mendapatkan jawaban dari apa yang hendak diketahuinya. Bila peneliti misalnya hendak mengetahui hubungan pengaruh dan hubungan sebab akibat antara kesadaran hukum dan tingkat pendidikan seseorang maka ia dapat menggunakan jurimetri. Namun bila seorang peneliti meragukan apakah kesadaran hukum seseorang dapat diukur dan ia ingin mengetahui secara mendasar bagaimanakah kesadaran hukum seseorang dapat dijelaskan secara luas dan mendalam maka sudah barang tentu lebih baik ia berpihak kepada pendekatan kualitatif. Kiranya persoalan yang harus diuraikan dalam wacana pendekatan metodologi dalam ilmu hukum bukan saja perdebatan antara pendekatan jurimeteri dan pendekatan kualitatif saja seperti yang sudah diuraikan di atas. Persoalan lain yang tidak kalah besarnya adalah adanya beberapa kubu pemikiran metodologis sebagai konsekuensi dari penafsiran mengenai konsep hukum seperti yang akan diuraikan di bawah ini. Tipologi Penelitian limn nkum Untuk dapat mengurai permasalahan yang muneul pada awal tulisan ini upaya pertama yang harus dilakukan adalah membentangkan kembali suatu peta mengenai apakah hukum illl  dan bagaimanakah konsekuensi metodologisnya. Seperti diketahui tidaklah mungkin akan didapat konsep dan pengenian yang tunggal mengenai hukum. Keragaman pandangan dan konsep mengenai hukum khususnya dalam kegiatan i1miah lahir sesuai dengan tunllltan kebutuhan dan kepentingan pada jamannya. Dengan demikian perbedaan dalam menanggapi memberi makna dan interpretasi terhadap hukum yang kemudian berdampak pad a munculnya beberapa variasi dalam metode penelitian hukum adalah sesuatu yang wajar. Pandangan-pandangan yang berbeda tersebut tidak hanya saling mengkoreksi satu sarna lain tetapi juga saling melengkapi. Dengan demikian sesungguhnya kehadiran metode penelitian yang bervariasi membuat ilmu hukum justru menjadi kaya. pril Juni 2 2
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks