of 16

ANALISIS 20 JURNAL

Description
kesmas
Transcript
  A.   Jurnal Nasional Penulis Wahyu Catur Hidayati, Dwi Heppy Rochmawati, dan Targunawan Judul Pengaruh Terapi Religius Zikir Terhadap Peningkatan Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Halusinasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang Masalah Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi Tujuan Untuk mengetahui Pengaruh terapi religius zikir terhadap peningkatan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien halusinasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang Teori Kegiatan terapi religius zikir, dapat menurunkan gejala psikiatrik, Riset yaang lain menyebutkan bahwa menurunnya kunjungan ke tempat ibadah, meningkatkan jumlah bunuh diri di USA ,Kesimpulan dari berbagai riset  bahwa religius mampu mencegah dan melindungi dari penyakit kejiwaan, mengurangi penderitaan, meningkatkan proses adaptasi mengontrol suara-suara yang tidak ada wujudnya seperti halusinasi pendengaran. (Mahoney et.all, 1985 dalam Yosep, 2007). Terapi religius tidak diarahkan untuk merubah agama pasiennya tetapi menggali sumber kopingnya (Yosep, 2009, hlm.344). Terapi zikir adalah ucapan yang selalu mengingatkan kita kepada Allah (Hawari, 2009, hlm.202). dengan berzikir hati seseorang akan terasa tentram. Terdapat 3 sesi yang menjadikan pasien halusinasi mampu melafalkan bacaan zikirnya, mampu lebih nyaman untuk berzikir saat halusinasinya muncul, mampu menyampaikan perasaanya setelah berzikir Lokasi & Waktu RSJD DR. Amino Gondohutomo Semarang pada Tahun 2014 Jenis Penelitian Quasy Experimental Design  dengan pendekatan one group pre and posttest    Populasi & Sampel Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien halusinasi pendengaran yang dirawat pada bulan November 2013 di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondoutomo Semarang, dengan jumlah pasien halusinasi pendengaran sebanyak 306 orang. Penentuan ukuran sampel menggunakan Slovin, dengan tingkat kesalahan yang dikehendaki 10% sehingga didapatkan sampel 75 responden. Variabel Penelitian Variabel Independen yaitu terapi religius zikir dan variabel dependen yaitu kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran Analisis analisis bivariat dengan uji Wilcoxon   Hasil Penelitian Hasil uji statistik peningkatan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran sebelum dan sesudah dilakukan terapi religius zikir pada pasien halusinasi  pendengaran menunjukkan nilai nilai signifikan kurang dari α yang ditetapkan sebelumnya sebesar 5% (0,05), dengan demikian Ho ditolak, sehingga ada  pengaruh yang signifikan dari terapi religius zikir terhadap peningkatan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran. Pembahasan Kemampuan responden mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien halusinasi sebelum diberikan   terapi religius zikir  dengan kategori baik sebanyak 5 orang (6,7%), sedangkan kategori buruk sebanyak 70 orang (93,3%). Sesuai uji statistik terhadap kemampuan responden mengontrol halusinasi pendengaran pada psien halusinasi sebelum diberikan terapi religius zikir diperoleh mean= 2,41 < 3. Sehingga kemampuan mengontrol halusinasi  pendengaran masih dikatakan buruk. Kemampuan mengontrol halusinasi  pendengaran di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang masih buruk karena kebanyakan pasien hanya diberikan Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) biasa seperti menutup telinga dan menghardik sedangkan untuk ketenangan rohani nya pihak RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang belum menerapkan SOP  terapi religius zikir secara optimal dan belum diberikan secara berkala oleh  perawat karena hanya diberikan atas dasar inisiatif perawat saja. Kemampuan responden mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien halusinasi sesudah diberikan terapi   religius zikir  dengan kategori baik sebanyak 74 orang (98,7%), sedangkan kategori buruk sebanyak 1 orang (1,3%). Sesuai uji statistik terhadap kemampuan responden mengontrol halusinasi pendengaran  pada pasien halusinasi sesudah diberikan terapi religius zikir diperoleh mean= 5,55 > 3. Sehingga kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran sudah dikategori baik. Penulis Deden Dermawan Judul Pengaruh Terapi Psikoreligius: Dzikir Pada Pasien Halusinasi Pendengaran di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta Masalah Pasien memberikan persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan yang nyata seperti mendengar suara padahal tidak ada yang sedang berbicara atau mendengar suara. Tanda dan gejala yang dapat diobservasi adalah mendengarkan suara atau kebisingan, dimana suara itu memberi perintah kepada pasien untuk melakukan suatu aktifitas. Tujuan untuk mengetahui pengaruh Dzikir untuk mengatasi pasien yang halusinasi  pendengaran. Teori Direja (2011) tanda dan gejala halusinasi adalah pasien sering berbicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, mengarahkan telinga ke arah tertentu, menutup telinga, mendengar suara atau kegaduhan. Mendengar suara yang mengajak pasien bercakap-cakap, mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya. Pieter dan Namora (2010) bahwa usia dewasa muda berisiko lebih tinggi mengalami gangguan jiwa terutama halusinasi karena pada tahap ini kehidupan  penuh dengan stressor, masa dewasa muda mengalami masa ketegangan emosi dan itu berlangsung hingga usia 30-an. Dalam usia tersebut individu akan mudah mengalami ketidakmampuan menghadapi masalah sehingga akan lebih mudah emosi. Fatihuddin (2010) Dzikir adalah menjaga dalam ingatan agar selalu ingat kepada Allah ta‟ala. Dzikir dapat menyehatkan tubuh:  hidup orang shaleh lebih ceria, tenang, dan seolah-olah tanpa masalah, karena setiap masalah. Sulahyuningsih (2016) bahwa terapi religius efektif untuk meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi pendengaran. Dengan berdzikir hati seseorang akan lebih tentram, kegiatan terapi religius dzikir dapat menurunkan gejala psikiatrik. Religius disikapi dengan konsep takwa. Lokasi & Waktu di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta pada Tahun 2017 Jenis Penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (nursing process). Populasi & Sampel Populasi adalah pasien dengan halusinasi dengan sampel sebanyak 8 pasien dengan halusinasi pendengaran Variabel Penelitian Variabel Independen yaitu terapi psikoreligius dzikir dan variabel dependen yaitu halusinasi pendengaran Analisis Analisa menggunakan transkrip wawancara dan Trianggulasi Sumber. Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukan bahwa 5 dari 8 responden mengatakan halusinasi  berkurang setelah melakukan dzikir, dan 3 dari 8 responden mengatakan masih mendengar halusinasi setelah melakukan dzikir. Pembahasan Peneliti melakukan pengkajian mengenai halusinasi kepada 8 responden dengan melakukan observasi rata  –   rata klien mengalami tanda dan gejala yang  sama yaitu mengarahkan telinga ke arah tertentu, gelisah, terlihat terganggu, marah tanpa sebab, mencoba berinteraksi dengan lingkungan, tidak berdaya, sering menangis sendiri, tertawa sendiri. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan pada 8 responden didapatkan keluhan yang hampir sama antara R1, R2, R3, R4 R5, R6, R7, R8 yaitu mereka merasa mendengar bisikan yang menyuruh untuk melakukan sesuatu sehingga menuruti halusinasinya, memukul seseorang ketika emosi, mengarahkan telinga ke arah tertentu, sering tertawa sendiri, merasa takut ketika halusinasinya muncul, perubahan pola komunikasi, gelisah. Untuk mengalihkan halusinasi pendengaran yang dialami oleh pasien peneliti menggunakan tekhnik pengalihan dengan cara dzikir, agar responden dapat mengalihkan halusinasi pendengaran yang dialami sehingga  pasien merasakan ketentraman jiwa. Fungsi dari dzikir antara lain dapat mensucikan hati dan jiwa: berdzikir dapat mengingatkan kita kepada Allah dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan. Karena segala bentuk masalah adalah dari-Nya, dan dengan berdzikir dapat mengingatkan kita agar selalu  berfikir positif. Peneliti melakukan implementasi di Ruang Arjuna sebanyak 3-8 pertemuan. Halusinasi yang didengar oleh pasien berbeda  –   beda waktu nya. Berdasar hasil observasi pasien melakukan dzikir ketika mendengar suara  palsu, ketika sedang sendiri, dan setelah sholat. Peneliti meminta klien untuk melakukan dzikir secara mandiri setelah sholat magrib, isya dan shubuh. Penulis Citra Y. Perwitaningrum Yayi Suryo Prabandari Rr. Indahria Sulistyarini Judul Pengaruh Terapi Relaksasi Zikir Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Penderita Dispepsia Masalah Kecemasan skala sedang sampai berat pada penderita Dispepsia Tujuan  bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh terapi relaksasi zikir terhadap  penurunan tingkat kecemasan pada penderita dyspepsia Teori Benson (2000) bahwa respon relaksasi yang melibatkan keyakinan yang dianut akan mempercepat terjadinya keadaan rileks. Dengan kata lain, kombinasi respons relaksasi dengan melibatkan keyakinan akan melipatgandakan manfaat yang didapat dari respon relaksasi itu sendiri.  Najati (2005) Zikir membantu individu membentuk persepsi yang lain selain ketakutan, yaitu keyakinan bahwa semua konflik akan dapat dihadapi dengan  baik dengan bantuan Alloh SWT. Saat seorang membiasakan berzikir, ia akan merasa dirinya dekat dengan Alloh SWT, berada dalam lindungan-Nya yang kemudian akan membangkitkan percaya diri, kekuatan, perasaan aman, tentram dan bahagia. Saleh (2010) secara biopsikologi, zikir akan membuat seseorang merasa tenang sehingga menekan kerja sistem syaraf simpatetis dan mengaktifkan kerja syaraf parasimpatetis. Lokasi & Waktu Di Yogyakarta Pada Tahun 2016 Jenis Penelitian Rancangan penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Kuasi eksperimen merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan tanpa randominasi, namun masih menggunakan kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan model  perancangan prates dan pascates dengan menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan sampel yang ditetapkan secara non random (non randomized pretest posttes with control design)   Populasi & Sampel Populasi penelitian yaitu pasien dispepsia yang memiliki tingkat kecemasan dalam kategori sedang sampai dengan berat. Sedangkan sampel penelitian ini  berjumlah 8 orang yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu 4 orang kelompok eksperimen dan 4 orang kelompok control Variabel Variabel Independen yaitu terapi zikir dan varibael dependen yaitu penurunan  Penelitian tingkat kecemasan Analisis Data dianalisis menggunakan teknik statistik perangkat lunak Statistical  Product and Service Solution  (SPSS) for windows 16.0.Analisis untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan  Mann Whitney U    Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang diberi terapi relaksasi zikir kecemasannya lebih rendah dari pada kelompok yang tidak diberi terapi relaksasi zikir. Pembahasan Data tingkat kecemasan pada kelompok eksperimen menunjukkan rerata prates = 29,50 dan pascates= 13,25. Hal ini menunjukkan bahwa ada penurunan tingkat kecemasan yang signifikan dari prates (sebelum perlakuan) ke pascates (setelah perlakuan) pada kelompok eksperimen. Penurunan nilai rerata prates dan pascates kelompok eksperimen sebesar 16,25. Data pada kelompok kontrol menunjukkan perubahan tingkat kecemasan namun nilainya tidak sebesar dibandingkan kelompok eksperimen. Data tingkat kecemasan pada kelompok kontrol menunjukkan rerata prates = 32,75 dan pascates = 26,50. Penurunan nilai retata prates dan pascates kelompok konrol sebesar 6,25. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penurunan tingkat kecemasan yang signifikan dari prates ke pascates pada kelompok kontrol. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi relaksasi zikir dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien dispepsia. Hasil uji beda Mann Whitney U menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada saat pascates. Hal ini ditunjukkan dari nilai p < 0,05 yang berarti signifikan. Nilai prates tampak tidak ada perbedaan tingkat kecemasan antar kedua kelompok (p = 0,386 ; p > 0,05 yang berarti tidak signifikan), karena tingkat kecemasan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol samasama tinggi. Namun berbeda dengan nilai pascates yang tampak ada perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antar kedua kelompok (p=0,021 ; p<0,05 yang berarti signifikan). Penulis  Nita Rohayati Judul Relaksasi Dzikir Untuk Menurunkan Derajat Kecemasan Pada Ibu Hamil Trimester III Masalah Kecemasan yang berlebihan mempengaruhi kondisi kesehatan fisik dan psikis ibu serta bayi yang dikandung. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan derajat kecemasan ibu hamil trimester III. Teori Schaffer (2000) relaksasi dengan dzikir melatih individu untuk mengendurkan otot-otot dan menghayati perbedaan situasi tegang dan rileks, setelah  pengendoran otot dicapai, tahapan selanjutnya adalah memasukkan unsure keyakinan atau religius sambil melakukan relaksasi pernafasan yang membantu mengurangi kecemasan dengan cara mengatur langkah dan kedalaman  pernafasan. Benson (2000) konsep relaksasi yang menerapkan ajaran agama ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi rileks yang berlipat, karena selain otot (fisik) yang dilemaskan, menurut Benson penggunaan unsure agama dapat memudahkan subjek untuk memusatkan perhatian dan membantu menenangkan pikiran juga sikap pasrah dan berserah kepada Tuhan menambah kondisi rileks dan keadaan  jiwanya menjadi lebih tenang Lokasi & Waktu Karawang pada Tahun 2010 Jenis Penelitian Metode penelitian mengggunakan pendekatan kuasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design   Populasi & Subjek dalam penelitian ini adalah 5 orang ibu hamil yang berusia 20-35 tahun,
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks