of 9

Anitha Keperewatan Anak

Description
kesehatan
Transcript
  2. KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Asuhan Ke perawatan pada Anak dengan Hipospadia” Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Hipospadia pada Anak ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca. Cirebon, Maret 2017 Penulis 3. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipospadia adalah malformasi yang umum terjadi di saluran genital laki-laki yang ditunjukan dengan muara uretra yang abnormal dimana lokasi muara uretra/ostium uretra eksternum (OUE) dapat berada di bagian anterior (glandular, coronal, dan distal penile), bagian pertengahan, atau bagian posterior (penoscrotal, scrotal, perineal) dengan derajat kurvatura penis yang berbeda. Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo (below) dan spaden (opening). Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai tingkatan defisiensi uretra. Jaringan fibrosis yang menyebabkan chordee menggantikan fascia Bucks dan tunika dartos. Kulit dan preputium pada bagian ventral menjadi tipis, tidak sempurna dan membentuk kerudung dorsal di atas glans (Duckett, 1986, Mc Aninch,1992). Kelainan konginetal pada penis menjadi suatu masalah yang sangat penting, karena selain berfungsi sebagai pengeluaran urine juga berfungsi sebagai alat seksual yang pada kemudian hari dapat berpengaruh terhadap fertilitas. Salah satu kelainan konginetal terbanyak kedua pada penis setelah cryptorchidism yaitu hipospadia. Selain berpengaruh terhadap fungsi reproduksi yang paling utama adalah pengaruh terhadap psikologis dan sosial anak. Penyebab dari hiposapadia ini sangat multifaktorial antara lain disebabkan oleh gangguan dan ketidakseimbangan hormone, genetika dan lingkungan. Ganguan keseimbangan hormon yang dimaksud adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Sedangkan dari faktor genetika , dapat terjadi karena gagalnya sintesis androgen sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. Dan untuk faktor lingkungan adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Insiden malformasi ini bervariasi di seluruh dunia dan memiliki kecenderungan yang meningkat setiap tahun. Hipospadia mengenai sekitar 1:250 sampai 1:125 kelahiran bayi laki- laki di Amerika serikat. Sumber lain menyebutkan bahwa kelainan ini mengenai 30-40 anak per 10.000 kelahiran bayi laki-laki. Kelainan ini cenderung terjadi pada ras Kaukasia dibanding non Kaukasia. Sebuah studi di Asia menyebutkan bahwa 27 (0.41%) bayi baru 4. lahir dari 6.538 kelahiran bayi laki-laki memiliki hipospadia. Insiden ini meningkat dari 2.85 per seribu di tahun 1999 sampai 6.89 per seribu di tahun 2005. Sedangkan prevalensi malformasi ini di Cina sekitar 5,8 per 10.000 kelahiran bayi laki-laki dan cenderung meningkat. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dat membuat rumusan masalah yaitu sebagai berikut : 1. Apa definisi  hipospadia ? 2. Bagaimana antomi dan fisiologi uretra? 3. Bagaimana patofisiologi pada hipospadia ? 4. Apa etiologi hipospadia ? 5. Apa saja klasifikasi hipospadia ? 6. Bagaimana manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik serta penatalaksanaan medis pada pasien (anak) hipospadia ? 7. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan hipospadia ? C. Tujuan Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas keperawatan anak dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Hipospadia” Tujuan khusus penulisan makalah ini a dalah agar penulis ataupun pembaca mengetahui serta memahami : 1. Definisi hipospadia 2. Anatomi fisiologi uretra 3. Patofisiologi hipospadia 4. Etiologi hipospadia 5. Klasifikasi hipospadia 6. Manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostic dan menatalaksanaan medis hipospadia 7. Asuhan keperawatan pada anak dengan hipospadia 5. BAB II TINJAUAN TEORI A. Definisi 1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal/ujung glans penis. (Yayuk Susanti, 2011:3) 2. Hipospadia merupakan kelainan kongenital yang dapat dideteksi ketika atau segera setelah bayi lahir, istilah hipospadia menjelaskan adanya kelainan pada muara uretra pria. Kelainan hipospadia lebih sering terjadi pada muara uretra, biasanya tampak disisi ventral batang penis. Sering kali, kendati tidak selalu kelainan tersebut diasosiasikan sebagi suatu chordee, yaitu untuk istilah penis yang menekuk kebawah. (Khathleen Morgan Speer, 2008:168) 3. Hipospadia yaiitu lubang uretra tidak terletak pada tempatnya, misalnya : berada di bawah pangkal penis. Jika lubang kecil saja tidak memerlukan tindakan karena dapat menutup sendiri. Tetapi jika lubang tersebut besar perlu tindakan bedah dan menunggu anak sudah dalam usia remaja sampai ke 14. (Rukiah & Yulianti, 2013) B. Anatomi Fisiologi Uretra Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine ke luar dari buli-buli melalui proses miksi. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan sperma. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, dan sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Secara anatomis uretra dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Uretra pars anterior, yaitu uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis, terdiri dari: pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikulare, dan meatus uretra eksterna. 2. Uretra pars posterior, terdiri dari uretra pars prostatika, yaitu bagian uretra yang dilengkapi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Uretra merupakan sebuah saluran yang berjalan dari leher kandung kencing ke lubang luar, dilapisi membran mukosa yang bersambung dengan membran yang melapisi kandung kencing. Meatus urinarius terdiri atas serabut otot lingkar yang membentuk sfingter uretra (Pearce, 2006). Uretra mengalirkan urin dari kandung kencing ke bagian eksterior tubuh. 6. Uretra laki-laki panjangnya mencapai 20 cm dan melalui kalenjar prostat dan penis. Ada tiga bagian uretra (Sloane, 2003), yaitu: 1. Uretra prostatik Dikelilingi oleh kalenjar prostat. Uretra ini menerima dua duktus ejakulator yang masing- masing terbentuk dari penyatuan duktus deferen dan duktus kalenjar vesikel seminal, serta menjadi tempat bermuaranya sejumlah duktus dari kalenjar prostat. 2. Uretra membranosa Bagian yang terpendek (1 cm sampai 2 cm). Bagian ini berdinding tipis dan dikelilingi oleh otot rangka sfingter uretra eksternal. 3. Uretra kavernous (penile, bersepons) Merupakan bagian yang terpanjang. Bagian ini menerima duktus kalenjar bulbouretra dan merentang sampai orifisium uretra eksternal pada ujung penis. Tepat sebelum mulut penis, uretra membesar untuk membentuk suatu dilatasi kecil, fosa navicularis. Uretra kavernous dikelilingi korpus spongiosum, yaitu suatu kerangka  ruang vena yang besar. Uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan ventral penis. Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi funikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu. Hipospadia terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral penis. Ada beberapa derajat kelainan pada glandular (letak meatus yang salah pada glands), korona (pada sulkus korona), penis (di sepanjang batang penis), penoskrotal (pada pertemuan ventral penis dan skrotum), dan perineal/pada perineum (Andi Susanto, 2015:2-3). Keterangan Gambar : A : Penis yang Normal B :Hypospadias dengan chorda 7. C. Patofisiologi Hypospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Hypospadia di mana lubang uretra terletak pada perbatasan penis dan skortum, ini dapat berkaitan dengan crodee kongiental. Paling umum pada hypospadia adalah lubang uretra bermuara pada tempat frenum, frenumnya tidak berbentuk, tempat normalnya meatus uranius di tandai pada glans penis sebagai celah buntuh. Pada embrio yang berumur 2 minggu baru terdapat 2 lapisan yaitu ektoderm dan endoderm. Baru kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu mesoderm yang kemudian bermigrasi ke perifer, memisahkan ektoderm dan endoderm, sedangkan di bagian kaudalnya tetap bersatu membentuk membran kloaka. Pada permulaan minggu ke-6, terbentuk tonjolan antara umbilical cord dan tail yang disebut genital tubercle. Di bawahnya pada garis tengah terbenuk lekukan dimana di bagian lateralnya ada 2 lipatan memanjang yang disebut genital fold/crodee. Selama minggu ke-7, genital tubercle akan memanjang dan membentuk glans. Bila terjadi agenesis dari mesoderm, maka genital tubercle tak terbentuk, sehingga penis juga tak terbentuk. Bagian anterior dari membrana kloaka, yaitu membrana urogenitalia akan ruptur dan membentuk sinus. Sementara itu genital fold akan membentuk sisi-sisi dari sinus urogenitalia. Bila genital fold gagal bersatu di atas sinus urogenitalia, maka akan terjadi hipospadia. (Andi Yudianto, 2014:10) D. Klasifikasi Hipospadia biasanya diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomi meatus urethra : 1. Anterior atau hipospadia distal (meatus urethra terletak di gland penis), pada hipospadia derajat pertama ini letak meatus urethra eksterna dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu hipospadial sine (curvatura ventral penis dengan letak meatus urethra eksterna normal, jenis ini sering dianggap hipospadia yang bukan sebenarnya), glandular (letak meatus ekterna hanya turun sedikit pada bagian ventral gland penis), dan sub-coronal (letak meatus urethra eksterna terletak di sulcus coronal penis). 2. Middle shaft atau intermediate hipospadia, yang disebut hipospadia derajat dua, juga dapat dibagi berdasar letak meatus urethra menjadi distal penis, mid-shaft, dan tipe proksimal. 8. 3. Hipospadia posterior atau proksimal atau derajat tiga dibagi menjadi penoscrotal (meatus urethra di antara pertemuan basis penis dan scrotum), scrotal (meatus urethra eksterna di scrotum), dan perineal (meatus urethra eksterna di bawah scrotum dan pada area perineum). Hipospadia anterior/distal/derajat 1 1. Hipospadiasine 2. Glandular 3. Sub-coronal Hipospadia media/derajat 2 4. Penis distal 5. Midshaft 6. Penis proksimal Hipospadia posterior/derajat 3 7. Penoscrotal 8. Scrotal 9. Perineal Gambar 1. Klasifikasi hipospadia berdasar letak anatomis meatus urethra. Keterangan gambar : Hipospadia dibagi menjadi tiga berdasarkan letak anatomis meatus eksterna menjadi hipospadia anterior/distal/derajat1, hipospadia media/ derajat 2, dan hipospadia porterior/proksimal/derajat 3. (Khilyatul Mufida, 2012:11-12) E. Etiologi Penyebab fimosis pada bayi baru lahir harus diketahui secara  dini agar petugas kesehatan terutama perawat/bidan dalam hal ini sering melakukan pertolongan persalinan pada ibu agar mudah melakukan antisipasi penyebabnya antara lain : uretra terlalu pendek, sehingga tidak mencapai glans penis, kelainan terbatas pada uretra anterior dan leher kandung kemih, merupakan kelainan congenital, terjadi adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke 10. (Rukiah & Yulianti, 2013) Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadi dan epispadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain: 1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon 9. Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. 2. Genetika terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. 3. Lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. 4. Faktor eksogen yang lain Pajanan prenatal terhadap kokain, alcohol, fenitoin, progestin, rubella, atau diabetes gestasional. (Andi Susanto, 2015:4-5) F. Pathways 10. G. Manifestasi Klinis 1. Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada di bawah atau di dasar penis. 2. Penis melengkung ke bawah 3. Penis tempat seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis. (Rukiah & Yulianti, 2013:134) 4. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK. 5. Pada Hipospadia grandular/koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis keatas. 6. Pada Hipospadia peniscrotal/perineal anak berkemih dengan jongkok. (Yayuk Susanti, 2011:7) 7. Preputium tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis. 8. Biasanya jika penis mengalami kurvatura (melengkung) ketika ereksi, maka dapat disimpulkan adanya chordee, yaitu  jaringan fibrosa yang membentang hingga ke glans penis. 9. Kulit penis bagian bawah sangat tipis. 10. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada. 11. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum). (Andi Yudianto, 2014:7) Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis.Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee. (Andi Yudianto, 2014:11) H. Komplikasi 1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu). 2. Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK. 3. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa. Komplikasi paska operasi yang terjadi : 11. 1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks