of 15

HUKUMAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEDISIPLINAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN

Description
Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793HUKUMAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEDISIPLINAN SANTRI DI PONDOK…
Transcript
Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793HUKUMAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBENTUKAN KEDISIPLINAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN Ummi Sa’adah1 1UniversitasIslam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang Email : ummisaadah20@gmail.comAbtsract This research is motivated by pesantren phenomenon known as educational institution which use punishment as a method to educate students. One of the pesantren that apply the penalty for improving discipline students is Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. The focus of this research is the application of punishment and its impact on the discipline of santri. This research uses qualitative approach of case study type. The results showed that: 1) Planning of punishment program is done through recruitment, education and training and mentoring to pesantren board. 2) The punishment program is adjusted for the severity of the violation committed by the students. 3) Evaluation of punishment program is done through; direct and indirect supervision, coordination with central security. Keywords : Hukuman, Kedisiplinan Santri Pendahuluan Pendidikan di Indonesia sedang dihadapkan dengan berbagai persoalan. Seiring melajunya arus globalisasi memberikan dampak negatif yang menjadi tantangan besar. Salahsatunya adalah kebangkrutan moral mewabah di berbagai lini kehidupan. Babun Suharto menyatakan dampak globalisasi berakibat pada krisis akhlak di semua lapisan masyarakat, mulai dari pelajar hingga pejabat negara (Babun, 2011: 53). Hal ini disebabkan oleh minimya keteladanan dan sistem pendidikan tidak terkonsep dengan baik. Oleh karena itu, kini lembaga pendidikan Islam, pesantren hadir memberikan solusi penanggulangan. Pesantren sebagai pusat pengembangan masyarakat muslim Indonesia (Sirojuddin, 1994: 99) memiliki prosedur14Hukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan SantriJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793sistematis dalam mendidik para santrinya. Tidak hanya menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat literasi dan masyarakat budayawan (Mujammil, 2002), namun pesantren juga mengeluarkan kebijakankebijakan konseptual dalam membina dan membimbing santrinya. Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo merupakan pesantren khalafiyah (modern). Menurut Arief Subhan, pesantren dikatakan modern jika memiliki sistem pembelajaran yang sistematik dan memberikan porsi cukup besar untuk mata pelajaran umum (Arief, 2012: 129). Hal ini dibuktikan dengan lembaga pendidikan formal mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga PT (Pergurusn Tinggi) tersedia di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Untuk menanggulangi kebangkrutan moral bangsa, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengambil peran dengan menerapkan hukuman. Hukuman diterapkan agar santri dapat berprilaku disiplin dan tidak mengulangi kesalahannya kembali. Dalam penerapan hukuman tersebut, Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki perencanaan prosedural, pelaksanaan konseptual, evaluasi sistemik dan dampak korektif. Oleh karenanya, hukuman akanmenjadi motivasi bagi peserta didik apabila diberikan melalui pendekatan edukatif dan humanis (Syaiful, 2011: 165). Sebaliknya, hukuman akan menjadi bumerang pembelajaran jika diberikan tanpa adanya prosedur dan konsep yang matang. Hukuman; Sebuah Pengantar Secara etimologi hukuman “punishment” atau “law” memiliki arti siksaan (John ME, 2000). Dikatakan hukuman jika dapat memperlemah atau menekan perilaku (Anita Woolfolk, 2009: 311). Dengan adanya hukuman perilaku menyimpang akan cenderung melemah dan tidak akan diulangi lagi. Seorang tokoh pendidikan Islam, Nashih Ulwan menyebutkan bahwa hukuman merupakan salah satu metode pendidikan Islam. Metode hukuman didefinisikan secara terminologi sebagai peringatan dan perbaikan atas perbuatan salah anak, bukan tindakan balas dendam yang didasari amarah (Abdullah Nashih Ulwan, 1993: 2). Selain itu hukuman juga disebut dengan “tarhib” yang berarti penyajian bahan pembelajaran dalam konteks hukuman (ancaman Allah) akibat perbuatan dosa yang dilakukan (Sri Minarti, 2013: 143). Dalam dunia pendidikan di Indonesia, hukuman merupakan proses penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorangHukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan Santri15Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793(orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadinya suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan (Ngalim Purwanto, 2009: 186). Hukuman dapat menjadi reinforcement negatif apabila tidak dilakukan dengan tepat dan bijak. Sebaliknya, hukuman akan menjadi motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif (Syaiful Bahri, 2011). Di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan hukuman-hukuman yang pantas diperoleh manusia yang melanggar aturan-Nya. Di ataranya seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Fath: 16 Allah menegaskan: “Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.â€? Begitu pula bagi mereka yang berbuat dosa, maka Allah akan menjadikkannya sebagai penghuni neraka yang kekal (QS. Al-Baqarah: 81). Sedangkan bagi hamba-Nya yang berbuat kejahatan akan mendapatkan pembalasan seimbang dengan kejahatan yang dilakukan (QS. AlAn’am:160). Rasul SAW. juga mengajarkan kepada orangtua muslim untuk memerintah putra-putrinya mengerjakan sholat sejak umur tujuh tahun dan memberi hukuman jikalau lalai dalam melaksanakan shalat saat berumur sepuluh tahun (Ibnu Abi Syaiban: 347). Hal ini menunjukkan bahwa legalitas pemberian hukuman telah diterapkan sejak zaman Rasul SAW.tentunya dengan ketentuan yang mengakibatkan efek jera. Dilihat dari aspek waktu pemberian hukuman dapat dibedakan menjadi dua macam hukuman. Pertama, hukuman preventif yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud agar tidak tarjadi pelanggaran. Contoh seseorang ditahan dipenjara selama menunggu keputusan hakim. Kedua, hukuman represif yaitu hukuman yang diberikan kepada pelanggar atas kesalahan yang telah diperbuat (Ngalim Purwanto, 2009:189). Sedangkan jenis hukuman edukatif yang dapat digunakan oleh para pendidik di antaranya: bermuka masam, membentak, melarang melakukan sesuatu, berpaling dan tidak menyapa (Rusdiana Hamid, 2006: 75). Begitu pula dengan tuntunan mengajar yang digagas oleh Ulama Pendiri Nahdlatul Ulama, dalam mendidik seorang guru perlu melakukan muroqobah kepada murid-muridnya. Sehingga dalam memberikan hukuman dapat memilah hukuman apa yang sesuai dengan kesalahan yang diperbuat. Seperti melakukan sindiran atau memberikan isyarat larangan.Namun menurutnya jikalau sindiran tidak memberikan efek jera, seorang guru boleh memberikan hukuman yang lebih tegas seperti pengusiran. Tetapi jika di kemudian hari murid telah berubah tingkah lakunya maka guru harus bisa menerima muridnya (Hasyim Asyari: 71).16Hukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan SantriJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793Terkait dengan hukuman fisik menuai kontroversi. Seorang pendidik modern Herbert Spencer sebagaimana yang dikutip oleh Rudolf Dreikurs mengkritik hukuman fisik tidak sesuai dengan pendidikan demokratis serta membuat siswa memiliki rasa dendam terhadap gurunya. Menurutnya hukuman fisik tidak memiliki manfaat apapun.Bahkan dampak yang muncul mengakibatkan siswa menjadi keras kepala dan memperkuat perasaan terisolasi untuk memberontak (Rudolf D., 1986: 58). Namun, bertolak belakang dengan argument di atas Hasan Langgulung menepis kritikan pedas tersebut. Menurutnya hukuman fisik adalah cara efektif untuk memperbaiki tingkahlaku peserta didik. Hingga saat ini belum ditemukan sebuah kajian ilmiah yang menunjukkan bahwa hukuman fisik memberikan pengaruh buruk pada pendidikan Islam (Hasan L., 1989: 45). Dipahami bahwa dalam memberikan hukuman kepada peserta didik, guru perlu memperhatikan beberapa hal di antaranya jenis hukuman yang akan diberikan memiliki efek jera atau tidak, situasi dan suasana saat memberikan hukuman sesuai atau tidak, menghindari hukuman fisik dan mencari alternative hukuman lainnya, dan yang terpenting adalah seorang pendidik perlu berlapang dada setelah memberikan hukuman agar hubungan baik antara peserta pendidik dan peserta didik tetap terjalin. Kedisiplinan Santri Seorang santri seharusnya memiliki sifat dan sikap disiplin.Seorang yang menimba ilmu di pesantren tentu memiliki banyak kegiatan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kegiatan pesantren tentu lebih padat dari pada kegiatan di lembaga formal lainnya. Di pesantren terdapat rutinitas kegiatan keilmuan, keagamaan, keterampilan, dan lain sebaginya. Selain itu juga terdapat tata tertib yang mengatur kewajiban dan hak-hak sebagai santri.Pesantren terkenal dengan nilai kepatuhan dan ketaatan seorang santri terhadap titah kiai (pengasuh). Oleh sebab itu seorang santri harus memilki sikap disiplin agar tujuan utama mondok dapat terwujud. Disiplin berasal dari Bahasa Inggris “disciplineâ€? yang berarti tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku atau penguasaan diri, latihan membentuk dan meluruskan sesuatu sebagai kemampuan mental, hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki, dan disiplin juga diartikan sebagai kumpulan peraturan-peraturan bagi tingkah laku (Tulus Tuu, 2004). Kedisiplinan merupakan proses melatih pikiran dan karakter anak secara terencanan dan bertahap, sehingga menjadi seseorang yang mampu mengontrol dirinya danHukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan Santri17Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793berguna bagi masyarakatnya (Ariesandi, 2008). Dalam Islam banyak mengajarkan kedisiplinan, sebagaimana firman Allah SWT. Surah Al-Ashr: 1-3:salahsatunya                 Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” Adapun metode pembentukan sikap disiplin menurut Haimowiz MLN sebagaimana E. Mulyasa mengutip, ada dua metode yaitu Love Oriented Tichique (berorientasi pada kasih sayang). Kedua, berorientasi pada materi, yaitu menanamkan disiplin dengan meyakinkan melalui kekuasaan, mempergunakan hadiah yang benar-benar berwujud atau hukum fisik (E. Mulyasa, 2009). Metode kedua ini ingin peneliti ungkap dalam kehidupan santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Karena dengan metode yang berorientasi kepada materi khususnya hukuman dapat ditelaah dan diukur secara deskriptif kualitatif. Metode Penelitian Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Studi kasus adalah penelitian yang memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail, subjek yang diselidiki terdiri dari satu kesatuan unit yang dipandang sebagai kasus (Winarno, 1994). Adapun data dan sumber data penelitian ini akan dijabarkan dalam tabel berikut: No Data Sumber Data 1. Tahap perencanaan Data Primer program hukuman untuk 1.1 Wawancara kepada Kepala KAMTIB meningkatkan Data Sekunder kedisiplinan santri 1.1 Dokumen profil Pondok Pesatren18Hukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan SantriJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-57932.Pelaksanaan program hukuman untuk meningkatkan kedisiplinan santri3.Evaluasi pelaksanaan program hukuman dan dampaknya dalam meningkatkan kedisiplinan santriNurul Jadid Paiton Probolinggo 1.2 Dokumen protap tahapan sanksi pelanggaran 1.3 Dokumen alur penanganan santri berkasus 1.4 Dokumen jadwal kegiatan santri Data Primer 1.1 Wawancara dengan Kepwil M 1.2 Wawancara dengan Kabid. Laksus 1.3 Wawancara dengan santri berkasus 1.4 Observasi kegiatan santri 1.5 Observasi proses penanganan sanksi pelanggaran secara langsung Data Sekunder 1.1 Dokumen satuan tugas KAMTIB 1.2 Dokumen pengasuhan santri di wilayah 1.3 Dokumen data pelanggaran santri 1.4 Gambar pemberian hukuman Data Primer 1.1 Wawancara dengan kepala KAMTIB 1.2 Wawancara kepada Kabid LAKSUS 1.3 Wawancara kepala Sektor M 1.4 Wawancara dengan santri berkasus 1.5 Observasi pelaksanaan evaluasi bulanan KAMTIB Data Sekunder 2.1 Notulensi rapat evaluasi bulanan 2.2 Dokumen rekapitulasi pelanggaran santri 2.3 Gambar pelaksanaan rapat bulananUntuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan tiga tehnik, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.Wawancara terstruktur digunakan untuk mewawancarai Kepala KAMTIB, Kepala Pesantren, Kepala Bidang LAKSUS Biro Keamanan dan Ketertiban PondokHukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan Santri19Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793Pesantren Nurul Jadid. Sedangkan wawancara tidak terstruktur digunakan untuk mewawancarai pengurus harian kantor Biro KAMTIB, Kepala Sektor Wilayah M, ddan santri berkasus. Dengan menggunakan tehnik wawancara tidak terstruktur ini, peneliti bertujuan dapat melakukan wawancara secara mendalam (depth interview) sesuai focus penelitian (Sugiyono, 2010). Observasi yang digunakan peneliti adalah observasi partisipatif, di mana peneliti mengamati dan mencatat langsung proses implementasi hukuman untuk meningkatkan kedisiplinan santri. Adapun dokumentasi yang dimaksud sesuai dengan tabel di atas. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu: 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, dan 4) verifikasi atau penarikan kesimpulan sesuai dengan fokus penelitian. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Perencanaan Program Hukuman Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Hasil penelitian menunjukkan perencanaan program hukuman untuk meningkatkan kedisiplinan santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo memiliki tiga tahapan. Pertama, pengurus Biro Keamanan dan Ketertiban (KAMTIB) mengadakan kegiatan diklat KAMTIB setahun dua kali, yaitu di awal perekrutan pengurus baru dan di pertengahan maha khidmah. Kegiatan ini bertujuan membekali pengurus KAMTIB baru tentang kinerja, satuan tugas, tujuan, fungsi, serta hal-hal terkait tentang tanggungjawab pengurus KAMTIB. Dengan diadakannnya kegiatan diklat KAMTIB ini, pengurus diharapkan dapat memahami teori-teori pembinaan santri, tahapantahapan penanganan santri berkasus, dan seluruh prosedur pemberian hukuman. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Didin Kurniadin dan Imam Machali, bahwa perencanaan merupakan proses kegiatan di mana dilakukan persiapan-persiapan sistematis untuk mencapai sebuah tujuan (Didin, dkk, 2012). Kedua, melakukan pendampingan di lapangan terhadap pengurus junior oleh pengurus senior. Pendampingan ini bersifat natural kondisional, artinya menyesuaikan kebutuhan, situasi, dan kondisi di lapangan. Sehingga diharapkan pengurus baru mampu bersikap adaptif dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab di lapangan. Program hukuman akan terlaksana optimal, jika penanggungjawabnya (pengurus) memiliki kemampuan dan pemahaman. Oleh karenanya, salah satu bentuk20Hukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan SantriJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793perencanaan program hukuman untuk meningkatkan kedisiplinan santri adalah melakukan rencana pendampingan pengurus baru sejak awal. Ketiga, mengamandemen undang-undang pesantren setiap tahun. Undang-undang pesantren berisi tentang peraturan pesantren, meliputi hak dan kewajiban santri serta hukuman bagi santri yang melanggar. Undang-undang Pondok Pesantren Nurul Jadid ini diamandemen oleh pengurus pesantren pusat setelah mendapatkan masukan dari walisantri. Masukan wali santri diperoleh saat pelaksanaan rapat walisantri secara terbuka yang dikemas dalam acara peringatan haul pendiri dan hari lahir (harlah) setiap bulan Rajab. Dari undang-undang inilah kemudian pengurus KAMTIB pusat membuat rincian peraturan, protap (prosedur tetap) hukuman, alur perizinan keluar masuk santri, dan lain sebagainya. 2. Pelaksanaan Program Hukuman Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Pelaksanaan didefinisikan sebagai tindakan untuk memulai, memprakarsai, memotivasi, dan mengarahkan, serta mempengaruhi para pekerja mengerjakan tugas-tugas untuk mencapai tujuan organisasi (Didin, 2012). Adapun kaitannya dengan pelaksanaan program hukuman untuk meningkatkan kedisiplinan santri adalah melakukan tahapan-tahapan program hukuman dimulai dari mengarahkan santri agar taat aturan hingga pemberian hukuman. Sesuai dengan hasil penelitian, terdapat empat tahapan dalam pelaksanaan program hukuman untuk meningkatkan kedisiplinan santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Pertama, memberikan pengarahan dengan mensosialisasikan peraturan pesantren secara tertulis melalui BP2S (Buku Pedoman dan Penghubung Santri) yang diberikan setelah melunasi biaya pendaftaran. Jika terdapat perubahan aturan ataupun hukuman akan disosialisasikan di wilayah masing-masing setelah mendapatkan surat intruksi dari KAMTIB pusat. Dalam teori manajemen, pengarahan merupakan usaha yang dilaksanakan untuk memberikan penjelasan tentang apa, mengapa, dan bagaimana melaksanakan fungsi dan tugas terutama yang berkaitan dengan kebijakan dan kebijaksanaan yang diberikan dalam menghadapi berbagai kemungkinan (Mantja, 1997: 6). Oleh karenanya, pengarahan yang dalam konteks ini berupa sosialisasi aturan harus dilakukan sebelum pelaksanaan pemberian hukuman. AgarHukuman dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kedisiplinan Santri21Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793seluruh santri mengetahui tatatertib dan kewajiban sebagai seorang santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kedua, Memberikan hukuman kepada santri berkasus sesuai dengan kategori pelanggaran. Pemberian hukuman bagi santri berkasus di Pondok Pesantren Nurul Jadid memiliki dua macam bentuk hukuman, yaitu sesuai dengan prosedur tetap dan tidak sesuai prosedur tetap (kebijakan). Hukuman yang diberikan sesuai dengan prosedur tetap termasuk kategori hukuman represif, karena hukuman diberikan setelah adanya pelanggaran sebagai konsekuensi atas kesalahan yang dilakukan (Ngalim, 2006). Berikut adalah alur penanganan kasus santri, santri yang melanggar akan melewati tahap penyidikan. Santri berkasus akan diintrogasi terlebih dahulu oleh pengurus sektor wilayah terkait alasan, tempat, waktu, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan. Di sinilah pengurus memberikan nasehat dan motivasi kepada santri berkasus agar menyadari kesalahannya, dan tidak mengulangi kesalahannya kembali. Kemudian santri diminta untuk menulis kronologi kasus dengan lengkap, setelah itu pengurus memberitahukan hukuman yang harus diterima atas pelanggaran yang dilakukan sesuai dengan ketentuan protap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukuman yang diberikan kepada santri berkasus bermacam-macam. Hukuman disesuaikan dengan kategori pelanggaran santri. Beberapa di antaranya berupa hukuman kerja sosial bagi santri yang melakukan perkelahian. Hukuman ini diberikan kepada santri tingkat SLTA yang nalarnya bisa menangkap tujuan dari hukuman tersebut. Hukuman yang seperti termasuk hukuman logis (Ngalim, 2006). Selain itu, pengurus KAMTIB saat memberikan hukuman kepada santri yang melanggar aturan terkadang mas
View more
15 pages
Free
88 views
0 times
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks