of 16

IMPLEMENTASI LABORATORY TRAINING SEBAGAI SOLUSI PEMBELAJARAN DIKOTOMIS

Description
Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793IMPLEMENTASI LABORATORY TRAINING SEBAGAI SOLUSI PEMBELAJARAN DIKOTOMIS M.…
Transcript
Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793IMPLEMENTASI LABORATORY TRAINING SEBAGAI SOLUSI PEMBELAJARAN DIKOTOMIS M. Bakir1 Universitas Nurul Jadid Email: bakir.muzanni@gmail.com 1Abstract This article is aimed to introduce the possible implementation of laboratory training in order to reduce a dicotomic based learning in Islamic education. Laboratory training assumes that first-hand experience in observation and manipulation of the materials of science is superior to other methods of developing understanding and appreciation. Laboratory training is also frequently used to develop skills necessary for advanced study and research. During the binarary opposition between West and East, between Islam and nonIslam, the educational institution needs a empircal ground of laboratory training as useful ways to provide the learners and educators attitudes and practical experiments to understand the possible effects of that dicotomy. This study further argues that laboratory training is to make sure that students are encouraged to have religious humanism as a philosophical basic of the Islamic teaching. Keywords: dicotomic learning, laboratory training, Islamic education Pendahuluan Ada fenomena kehidupan yang memprihatinkan dan perlu direspon secara serius di negeri ini. Di satu sisi betapa kehidupan beragama secara fisik berkembang sangat menggembirakan di seluruh lapisan masyarakat, namun di sisi lain betapa banyaknya perbuatan masyarakat itu sendiri yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang dianautnya. Kedua kecenderungan ini tampak berjalan paralel. Ini mengindikasikan bahwa hasil pendidikan belum berhasil melahirkan manusia seutuhnya. Krisis moral, yang melakukan praktek KKN misalnya, ternyata adalah mereka yang berasal dari kalangan terdidik dalam hal ini Tim Reformasi Pendidikan dan Pengembangan SDM berkesimpulan bahwa pengelola pendidikan selama beberapa dekade ini228Implementasi Laboratory TrainingJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793melahirkan manusia dengan kepribadian pecah (split personality) (Tim Reformasi, 2001: 33). Krisis moral yang melanda bangsa, yang juga di kalangan terdidik, menunjukkan sistem pendidikan kita melahirkan kepribadian pecah (split personality). Ini berakakr pada sisitem pendidikan yang dikomotis. Untuk itu agaknya mendesak dilakukan perumusan paradigma baru pendidikan yang non dikotomik. Secara teoritis, ajaran dasar Islam tidak memberikan tempat pada pola pikir dikotomis, dalam pendidikan dan juga keilmuan. Kebenaran, misi, dan subtansi ajaran Islam adalah universal dan kaffah serta tidak mengenal sekat ruang dan waktu. Pendidikan sebagai salah satu pilar memperjuangkan kebenaran, misi, dan subtansi ajaran Islam bag manusia, hendaknya mengacu kepada ajaran dasar Islam yang sangat manusiawi (humanis). Praktik pendidikan dalam sejarah, telah banyak tercerabut dari nilai-nilai dan potensi dasar manusia. Kembali kepada ajaran Islam yang manusiawi, adalah sebagai shock therapy terhadap ketidak seimbangan paradigmatik yang berkembang dalam dunia pendidikan Islam Humanisme relegius sebagai paradigma baru pendidikan Islam, dan sebuah terobosan terhadap kejumudan yang terjadi dalam Islac learning. Humanisme dalam pendidikan adalah proses pendidikan yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk relegius dan makhluk sosial, abdullah dan khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengembangkan potensi-potensinya. Pengembangan potensi manusia yang memiliki beragam kecenderungan individual, tentunya lebih berhasil dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi perkembangan individu. Ini sesuai dengan paradigma pembelajaran konstruktivistik. Karena itu sistem pembelajaran perlu ditata dengan media dan sumber belajar yang memungkinkan siswa mengembangkan potensinya seluas-luasnya sesuai dengan kecenderungan individual masingmasing. Tatanan media dan sumber belajar sebagai suatu tatanan lingkungan belajar-pembelajarandalam sebuah laboratorium pembelajaran (laboratory training). Tentunya lab-T harus didukung dengan guru profesional dengan fungsi dan peran yang konstruktivistik. Banyaka ahli berpandangan bahwa akar dari persoalan ini adalah berkembangnya cara berfikir serba diskotomis, seperti Islam vis a vis non-Islam, Timur-Barat, pendidikan agama-pendidikan umum, dan ilmu-ilmu agama versus ilmu-ilmu sekuler. Konsep pemikiran beberapa ahli telah mewacanakan paradigma baru kependidikan yang non-dikotomik, namun belum melahirkan model pembelajaran yang aplikatif sebagai implementasi dari paradigma baruImplementasi Laboratory Training229Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793tersebut. Tulisan ini merupakan sebuah gagasan tentang model pembelajaran yang dikehendaki sebagai implementasi paradigma non-dikotomik yang didasarkan pada pemikiran filosofis pendidikan Islam dan teori pembelajarannya. Dengan metode deskriptif analitif, tulisan ini berupaya mengkaji beberapa pemikiran terdahulu tentang uapaya keluar dari penyakit dikotomi yang melanda umat Islam, khususnya melalui pendidikan. Dikotomi Pendidikan Islam Pendidikan Islam hendaknya memiliki dimensi yang utuh (kaffah), sesuai dengan hakikat Islam yang kaffah. Keutuhan Islam itu berkisar pada dua dimensi hidup: penanaman ketaqwaan kepada Allah SWT. (hablun minallah), dan penanaman kemanusia kepadasesama (hablun minannas), atau dengan kata lain, dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Dalam bahasa al-Qur‟an dimensi ketuhanan disebut juga jiwa rabbaniyah (sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Ali Imran; 3:79). Wujud nyata atau subtansi jiwa ketuhanan itu, kita dapatkan nilai-nilai keagamaan pribadi yang amat penting yang harus ditanamkan kepada setiap anak didik. Kegiatan menanamkan nilai-nilai itu yang paling mendasar ialah iman, islam, ihsan, taqwa, ikhlash, tawakal, syukur, dan shabr (sabar). Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur hanya dari segi seberapa jauh anak menguasai hal-hal yabg bersifat kognitif atau penegtahuan tentang suatu semata. Justru yang lebih penting adalah seberapa jauh tertanam nilainilai kemanusiaan yang mewujud-nyata dalam tingkah laku dan budi pekerti sehari-hari (dimensi kemanusiaan). Perwujudan nyata nilai-nilai tersebut dalam tingkah laku dan budi pekerti sehari-hari akan melahirkan al akhlaq al karimah. Nilai-nilai al akhlaq al karimah ini sesungguhnya dapat kita ketahui secara akal sehat atau “common sense” mengikuti hati nurani kita. Di antara nilai-nilai akhlak yang sangat penting untuk ditanamkan kepada anak didik ialah silaturrahmi, persaudaraan (ukhuwah), persamaan (al musawah), adil, baik sangka (husnu zhann), rendah hati (tawadlu’), tepat janji (al wafa’), lapang dada (insyirah), dapat dipercaya (anamah), perwira (‘iffah), hemat (qawamiyah), dermawan (al juud) atau munfiqun. Hasil produk dari pendidikan yang belum kaffah, dengan kepribadian pecah (split personality) seperti dewasa ini memang menunjukkan masih ada masalah serius dengan proses pendidikan kita selama beberapa dekade ini. Perlu kajian ulang yang mendasar agar tidak melahirkan produk yang timpang atau tidak ada keseimbangan. Ketidak seimbangan ini bertentangan dengan230Implementasi Laboratory TrainingJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793karakteristi ajaran Islam itu sendiri yang tawazun atau tidak berat sebelah karena mengedepankan satu aspek sementara mengabaikan aspek yang lain. Mengedepankan kognitif, menonjolkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara lemah dalam konatif, afektif, dan psikomotorik, mengabaikan nilainilai akhlak karimah, atau sebaliknya, hanya akan melahirkan outcome dengan berbagai ketimpangan. Dan itulah yang terjadi selama beberapa dekade terakhir. Di satu sisi rasionalitas berkembang tanpa kendali moralitas, dan di sisi lain moralitas tanpa diikuti rasionalitas memunculkan kejumudan. Geovanni Pico Della Mirandola (filusuf humanisme dan ahli hermenurtika zaman renaissance Eropa), sebagaimana dikutib Ahmad Gaus AF, dihadapan para peminpin gereja membeberkan bahwa fondasi humanisme modern Barat dipelajari dari Islam (Gaus dan Majid, 2001: 39). Di samping itu, adalah sebuah realitas bahwa aspek humanisme dalam Islam bisa dirujuk pada doktrindoktrin al-Qurâ€&#x;an, Hadits Nabi SAW, maupun sejarah perkembangan Islam itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari prinsip egalitarianisme atau persamaan manusia menurut ajaran Islam (lihat, misalnya, QS Al-Hujarat [49: 13] tentang derajat manusia di hadapan Allah). Fakta historis mengindikasikan bahwa penyebab utama layunya intelektual Islam adalah saat terjadi dikotomi keilmuan dalam dunia pendidikan Islam. Selain masalah dikotomi ilmu agama dengan ilmu non agama (umum), dunia pendidikan Islam juga mengemban masalah dikotomi antara wahyu dan alam, serta antara wahyu dan akal (Masâ€&#x;ud, 2003: 9). Dikotomi yang pertama telah melanggengkan supremasi ilmu-ilmu agama, dikotomi kedua telah menyebabkan kemiskinan penelitian empiris dalam pendidikan Islam, serta dikotomi yang ketiga telah menjauhkan displin filsafat dari pendidikan Islam. Secara teoritis, ajaran dasar Islam tidak memberikan tepat pada pola pikir dikotomis dalam pendidikan dan keilmuan Islam. Kecenderungan pola pikir dikotomis itu lebih merupakan mainstream historis yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan kebenaran, misi, dan subtansi ajaran Islam yang universal tidak mengenal batas-batas sekat ruang dan waktu. Pendidikan Islam tentu harus mengacu pada ajaran dasar Islam itu sendiri yang kaffah seperti dijelaskan di atas, dan tidak memilah-milah antara duania dan akhirat. Dalam konteks ini dunia tidak memiliki spektrum yang sempit dan tidak dikotomis, yakni segala fasilitas untuk kepentingan pendidikan Islam, termasuk akal, alam bumi langit, dan lingkungan sekitar. Semuanya merupakan bukti karya agung Allah atau ayat-ayat-Nya (ayat kauniyah). Manusia dalam kerja sebagai khalifah Allah di bumi dan sekaligusImplementasi Laboratory Training231Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793sebagai Abdullah, dari perencanaan, invesment, dan pemanfaatan alam sudah seharusnya merupakan manifestasi pengabdian (ibadah) kepada Allah. Oleh karenanya, ada sinergitas antara acuan wahyu (ayat qur’aniyah) dan akal. Singkat kata secara ontologis pendidikan Islam tidak mengenal dikotomi yang akhirnya akan mempersempit makna pendidikan Islam itu sendiri. Dalam Pendidikan Islam di Indonesia, Amrullah Ahmad (1991: 52-53) merinci kegagalan-kegagalan sebagaimana yang terjadi dewasa ini akibat penyakit dikotomi dibiarkan mewabah dalam dunia pendidikan Islam, yaitu berakar pada kegagalan merumuskan tauhid dan bertauhid melahirkan syirik yang berakibat adanya dikotomi fikrah islamiyah. Penyakit syirik ini mewabah, dimana peserta didik memposisikan semisalijazah, nilai, atau lainnya pada posisi yang seharusnya ditempati Allah (mardhatillah) sebagai tujuan dan orientasi ta’allum-nya. Pada gilirannya dikotomik fikrah islamiyah ini menyebabkan adanya dikotomi kurikulum, kemudian melahirkan dikotomi dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. Proses pencapaian tujuan pendidikan yang dikotomis dalam interaksi sehari-hari di lembaga pendidikan menyebabkan dikotomi output pendidikan dalam bentuk kepribadian ganda (split personality) dalam bentuk kemusyrikan, sikap, cita-cita, dan prilaku yang disebut sekularisme. Lembaga pendidikan dengan suasana dikotomik yang melembaga dalam sistem pengelolaannya akan melahirkan dan memperkokoh sistem kehidupan umat sekularistik dan materialistik. Tata kehidupan umat menjadi Barat sekuler yang dipoles dengan nama Islam. Dalam proses regenerasi umat, terjadilah pemisahan kehidupan sosial-politik-ekonomi-ilmu pengetahuan –teknologi dengan ajaran Islam. Agama urusan akhirat dan ilmu pengetahuan-teknologi urusan dunia. Menyadari parahnya penyakit dikotomik ini, harus ada kesungguhan untuk mengadakan perubahan yang mendasar. Beberapa ahli telah melakukan analisa kritis. Isma‟il Raji Al-Faruqi menawarkan Islamisasi pengetahuan sebagai ssolusi yang dipandang paling tepat. Tawaran ini berangkat dari pandangan bahwa ada empat faktor penyebab kelesuan intelektualisme Islam yang berhubungan dengan dikotomi, yaitu (sebagaimana dikutip Abdurrahman Mas‟ud): proses penyempitan makna fikih serta status fakih yang jauh berbeda dengan para pendiri mazhab, pertentangan antara wahyu dan akal, keterpisahan antara kata dan perbuatan, serta sekularisme dalam memandang budaya dan agama (Mas‟ud, 2003: 5). Muhammad Al-Naquib Al-Attas, setelah mengkaji beberapa terminologi yang terkait dengan pendidikan Islam secara filosofis, memandang istilah tarbiyah tidak tepat sebagai term yang mewakili konsep pendidikan dalam232Implementasi Laboratory TrainingJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793Islam. Oleh karera itu Al-Attas menawarkan istilah ta’dib yang dipandang lebih tepat dan mencakup ilmu dan amal sekaligus. Kemudian dengan berbagai dasar pemikiran, akhirnya sampai pada redifinisi pendidikan Islam sebagai: pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan yang sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbingnya ke arah pengenalan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperibadatan. Menurut Qodri Azizy (2003: 48-61), harus ada kesungguhan untuk mengadakan perubahan yan mendasar dengan melakuka minimal empat hal berikut. Pertama, pemanfaatan ilmu bantu untuk pemahaman ulang (reinterpretasi) ajaran Islam. Kedua, mereformasi posisi beberapa ilmu, yang disebut dengan ilmu bantu, dari segi metode pengajarannya, sampai dengan pengembangannya. Ketiga, perlu merekontruksi kajian Islam di PTAI. Keempat, mengembangkan disiplin ilmu-ilmu keislaman. Untuk ini terutama sekali membawa ilmu keislaman yang dianggap hanya untuk akhirat, kealam dunia yang realistik dan dalam hal-hal tertentu empirik. Tahap keempat ini paling paling berat dibandingkan dengan tuntutan ketiga hal pertama di atas. Yang pertamam menuntut agar menjadikan ilmu-ilmu bantu sebagai alat analisis atau metodologi dalam kajian Islam, sehingga mampu menjadikan Islam menjadi kontekstual, hidup dan aktif yang mampu memberi jawaban terhadap tuntutan umat. Di sini ilmu-ilmu keislaman sebagai obyek diisi oleh ilmu bantu. Yang kedua menuntut agar mampu menjadikan ilmu-ilmu keislaman mengisi, memperkaya, mengembangkan dan memberi ruh (sebagai subyek) terhadap ilmu-ilmu keislaman dan doktrin agama sebagai hasil pemikiran ulama terdahulu, sehingga ajaran Islam bukan saja diharapkan mampu membumi, namun juga mampu menjadi pegangan dalam kehidupan di dunia. Yang keempat menuntut agar mampu mengembangkan ilmu-ilmu keislaman bukan hanya yang berkaitan dengan keakhiratan sebagai panduan beribadah dalam pengertian sempit (ibadah mahdlah), namun juga mampu menjadikan ilmu-ilmu keislaman sebagai panduan dan pedoman kehidupan di dunia. Dengan tahapan ini, diharapkan mampu menghasilkan ilmu-ilmu sosial, ilmu humaniora dan bahkan bila perlu natural sceinces yang berangkat dari wahyu (fenomena naqliyah). Untuk rekonstruksi ilmu pengetahuan, kaitannya dengan islam ini, tentu dimulai dari kajian filosofis. Pengembangan dari segi filsafat ilmu-ilmu keislaman ini yang akan mampu mewujudkan integrasi antara â€&#x;ilmu umuâ€&#x; dan â€&#x;ilmu agamaâ€&#x;, di satu sisi; dan untuk mayakinkan secara keilmuan bahwa jenis-jenis pengembangannya itu sebagai wujud cabang dariImplementasi Laboratory Training233Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793ilmu-ilmu keislaman, yang berarti masih menjadi wilayah keilmuan kita (Islamic studies). Menurut Hasan Baharun dan Akmal Mundiri (2011: 56) salah satu sebab berkembangnya kecenderungan dikotomi adalah kegagalan manusia (Muslim) memahami secara proporsional hubungan antara ilmu dan agama. Oleh karena itu dia mengilustrasikan salah satu model pendekatan hubungan antara ilmu dan agama, yang diharapkan dapat membantu pemahaman yang proporsional tersebut. Hubungan antara ilmu fan agama lebih proporsional bila ditatap bukan sebagai suatu keadaan atau status, melainkan sebagai suatu proses. Disebut suatu proses karena dalam perjalanan sejarah, istilah tersebut mengalami suatu evolusi, dan makro evolusi (perkembangan pemahaman yang terjadi karena perkembangan peradaban dan budaya antara generasi manusia), maupun mikro evolusi (perkembangan pemahaman pada tingkat individu). Evolusi dimaksud adalah suatu perjalanan panjang yang tidak berujung dari manusia dalam upaya menangkap dan memahami Al-haq. Dengan kata lain hubungan antara ilmu dan agama adalah hubungan yang bersifat dinamik evolutif, yaitu: suatu interpretasi manusia terhadap kebenaran hakiki Allah, melalui fenome kauniyah dan fenomena naqliyah, yang berkembang secara terus menerus. Inti pemahaman hubungan tersebut ialah keimanan dan ketundukan mutlah manusia kepada Allah, yang antara lain tercermin dalam pemikiran, sikap dan prilaku: Pertama, bahwa kebenaran mutlak (Al Haq) hanya ada pada Allah semata dan yang dapat dicapai manusia (dengan interpretasi kauniyah maupun naqliyahnya), hanya kebenaran relatif, dalam skala temporal maupun special. Kedua, kesadaran akan keterbatasan interpretasi tersebut akan timbul sikap dan prilaku (amanah) dari Allah; dan motivasi penerapannya diupayakan dalam rangka pemenuhan amanah tersebut. Ketiga, keyakinan akan tiadanya pertentangan antara ilmu dan agama, karena keduanya berasal dari sumber yang sama. â€?Pertentanganâ€? yang dujumpai dalam praktek adalah semu, sebagai akibat kekeliruan interpretasi ayat kauniyah dan naqliyah atau keduanya. Keempat, kesadaran bahwa ilmu bukan satu-satunya sumber kebenaran dan bukan satu-satunya jalan pemecahan bagi problem kehidupan manusia. Dengan pemahaman dan pemikiran tersebut, sampailah pada hakikat ilmu dalam Islam, yaitu bahwa semua ilmu datang adri Allah (ilmu Allah), hany cara kedatangannya, yaitu hushul dan wusul serta (meminjam istilah Al Attas) fakultas-fakultas dan indera-indera yang menerima dan menafsirkan berbeda. Ini sesuai dengan wujud batiniyah (ruh, nafs, qalb, ’aql), dan jadas, fakultas jasmaniah dan indera-inderanya. Kemudian dari segi hukum mempelajarinya,234Implementasi Laboratory TrainingJurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793ada yang bersifat fardlu ’ain (fardlu atas semua muslim) dan ada yang fardlu kifayah (fardlu bagi sebagian muslim saja). Tentang klasifikasi ini, Al Ghazali membedakan kepada ilmu mu’amalah dan ilmu mukasyafah. Ilmu mu‟amalah ini yang diklasifikasikan kepada fardlu ’ain dan fardlu kifayah fardlu kifayah yang dasar klasifikasi itu adalah tingkat mendesaknya kebutuhan, baik secara individu maupun kolektif (dlarariy fi haqqi kulli syakhsy) (Al-Ghazali, 1995: 26-30), bukan suatu bentuk dikotomik. Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam(?) Dalam konteks pendidikan saat ini, humanisme religius bisa dianggap shock therapy terhadap ketidakseimbangan paradigmatic yang berkembang dalam dunia pendidikan, dan sebuah terobosan baru terhadap kejumudan yang terjadi dalam Islac learning. Yang dimaksud humanisme dalam pendidikan adalah proses pendidikan yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial, abdullah dan khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengembangkan potensi-potensinya. Humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu untuk mengukur dan mencapai ranah ketuhanan dan mpenyelesaian permasalahanpermasalahan sosial, dengan melaksanakan nilai-nilai universal kemanusiaan. Melaksanakan nilai-nilai kemanusi
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks