of 2

KAR-Global Youth's Consumption

Description
Review bacaan matakuliah Kajian Anak dan Remaja
Transcript
     Nama : Yudha Arya Pradana  NIM : 11/319870/SA/16177  M.K. : Kajian Anak dan Remaja Global Youth’s Consumption   Anak muda itu akan mengkonsumsi segala sesuatu yang akan menunjukkan jati dirinya, baik itu konsumsi fashion, aliran musik, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan anak muda itu sedang dalam masa pencarian jati diri, sehingga ketika mereka telah menemukan  jati diri itu akan ditampakkan. Dengan begitu ini yang akan membedakan jati diri mereka dengan orang lain dan yang akan menyatukan mereka dengan orang-orang yang memiliki jati diri yang sama. Salah satu konsumsi global yang banyak diikuti oleh anak muda adalah hip-hop, yang mana ini bukanlah semata-mata sebuah genre musik, tetapi ada ideologi di dalamnya. Untuk itu review ini akan membahas tulisan Abdoulaye Niang yang berjudul “  Bboys: Hip-hop Culture in Dakar Senegal  ”.   Niang mengatakan bahwa masyarakat itu jangan dilihat sebagai sesuatu yang lurus-lurus saja, teratur seperti musik orkestra, tetapi lihatlah masyarakat sebagai medan perang yang mana ada benturan di dalamnya, ada konflik dan negosiasi. Dengan kata lain dalam suatu masyarakat selain harus ada order, juga harus ada disordernya. Hal ini supaya masyarakat dapat terus bertransformasi, tidak hanya jalan di tempat. Hip-hop dianggap oleh orang-orang tua sebagai ancaman pada nilai-nilai dan praktik-praktik tradisional. Dengan demikian hip-hop dianggap sebagai disorder yang mana ini menimbulkan kegelisahan, karena ideologi dari hip-hop ini mengajarkan untuk melanggar larangan-larangan. Mereka itu merepresentasikan massa yang tercederai oleh order-order yang sudah ada, oleh karena itu mereka melanggar larangan-larangan, karena berbagai macam larangan itu berasal dari order yang telah mencederai mereka. Makna budaya hip-hop itu terdapat dalam budaya kritik mereka terhadap ketidaksetaraan, kebijakan yang tidak dirasakan manfaatnya, serta tentang kekerasan sehari-hari. Kritik ini mereka sampaikan melalui musik yang mana penyanyinya disebut dengan rapper. Di antara lirik yang mengandung kritik adalah “..kenapa sebagian hidup di rumah yang bagus dan yang lainnya di gubuk jerami? ” kemudian “..apa aku bukan rakyat di negara ini? Uang berlimpah di sini, mengapa aku tidak mendapatkan bagianku? ”  Pada pemuda yang tidak bekerja ( unemployed  ) banyak yang bergabung dengan kelompok kesenian ini karena di dalamnya menyediakan kerangka budaya yang lebih sesuai dengan mereka, juga memungkinkan mereka untuk menghasilkan uang melalui karya-karyanya. Hip-hop sesuai dengan mereka karena dengan bergabung dengan kelompok hip-hop mereka dapat membangun integrasi dan solidaritas dengan orang-orang yang senasib  dengannya, ini akan memperluas jejaring mereka yang sangat berguna untuk memperluas akses mereka terhadap sesuatu. Hip-hop juga merupakan sarana komunikasi bagi anak muda. Pers yang menjadi  perantara atau media komunikasi antara individu dengan otoritas kini banyak mengalami kesulitan dalam memahami perannya secara benar. Hal ini membuat posisi rap semakin kuat sebagai media komunikasi. Rap kemudian dijadikan oleh para anak muda sebagai media klaim dan instrumen untuk membangun hak-hak mereka sendiri. Sebagai media komunikasi yang efektif, hip-hop memiliki kapasitas atau kemampuan untuk menumbuhkan kesadaran  politik anak muda. Secara politis, rap itu mengekspresikan rasa yang dalam dari kekejaman atas ketidakadilan dan kemiskinan. Karena rap sebagai media komunikasi yang meneriakkan  protes terhadap ketidakadilan, maka musik rap itu cepat, agresif, dan garang. Musik yang cepat ini disertai dengan dance  yang dimaknai dapat memberi kebebasan yang jelas, jiwa yang kuat, dan menandakan kesiapan untuk berjuang. Mereka juga memiliki identitas yang  berbeda dari yang lain, yang mana ini dapat dilihat pada cara berpakaian, bahasa, cara  berjalan, dan penggunaan nama-nama panggilan khusus. Hip-hop sebagai counter-culture  yang diorganisasikan oleh komunitas yang relatif tertutup yang menentang order ini sulit untuk diterima oleh masyarakat luas. Padahal mereka  juga mempunyai keinginan untuk bisa diterima oleh masyarakat luas. Oleh karena itu sekarang ada trend untuk membuat publik peka, membuat mereka memahami hip-hop sebelum mereka melancarkan kritik-kritik yang menjadi ciri khasnya. Maka ada negosiasi di sini supaya masyarakat dapat menerima hip-hop. Hasilnya, sekarang meskipun kode-kode subkultural masih tetap ditampilkan, namun ada beberapa perubahan, seperti lirik yang digunakan lebih dapat dipahami, memakai istilah-istilah yang baik dan dipahami banyak orang, menggunakan tempo yang lebih lambat, dan artikulasi lebih jelas. Dari situ masyarakat mulai menghargai hip-hop dan budaya mereka dengan lebih baik. Masyarakat Senegal sering memanggil rapper untuk membangkitkan kesadaran publik mengenai masalah-masalah sosial seperti HIV/AIDS dan untuk tampil pada acara-acara amal. Bacaan:  Niang, Abdoulaye. “Bboys: Hip - hop culture in Dakar, Senegal” in Pam Nilan and Carles Feixa (eds) Global Youth? Hybrid Identities, Plural Worlds . Routledge, London and  New York.
View more
2 pages
Free
9 views
0 times
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks