of 4

Kebijakan Skp Rsia Dedari Fix

Description
Kebijakan Skp Rsia Dedari Fix
Transcript
   KEBIJAKAN DEDARI Tanggal Efektif : 20 April 2016 Lampiran SK No : 012/SKP/ RSIA.D/IV/2016 Revisi Ke : 02 Halaman : 1/4 RSIA DEDARI TENTANG   SASARAN KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT A.   Identifikasi Pasien 1.   Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien yaitu nama dan tanggal lahir. 2.   Identifikasi pasien rawat inap, bayi baru lahir dan rawat one day care  menggunakan gelang identitas, identifikasi dilakukan dengan menanyakan nama dan tanggal lahir  pasien dan mencocokkan dengan gelang identitas pasien. 3.   Identifikasi pasien dengan menanyakan nama dan tanggal lahir pasien mutlak harus dilakukan oleh petugas rumah sakit saat pertama kali kontak dengan pasien. Untuk kontak selanjutnya identifikasi dilakukan dengan cara petugas menyebutkan nama  pasien dan mencocokan identitas pasien pada gelang pasien. 4.   Identifikasi pasien rawat jalan menggunakan stiker identitas yang ditempelkan pada  pungung tangan pasien, identifikasi dilakukan dengan menanyakan nama dan tanggal lahir dan mencocokkan dengan stiker identitas yang ditempelkan pada punggung tangan pasien. Petugas yang melakukan pemasangan stiker identitas adalah petugas  pendaftaran. Pada kondisi tertentu dimana pasien rawat jalan berobat ke UGD,  pemasangan stiker identitas dilakukan oleh perawat UGD. Stiker identitas hanya dilepas saat pasien pulang atau keluar dari rumah sakit oleh petugas apotek, kasir,  petugas keamanan, atau perawat pelaksana setelah administrasi selesai. 5.   Identifikasi pasien tidak sadar/tidak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri, identifikasi dilakukan dengan menanyakan kepada keluarga/pengantarnya sembari dicocokkan dengan gelang identitas. 6.   Pasien laki-laki menggunakan gelang berwarna biru, pasien perempuan memakai gelang berwarna merah muda, pasien bayi yang jenis kelaminnya sulit ditentukan memakai gelang putih, sedangkan gelang/klip merah sebagai penanda alergi, gelang/klip kuning sebagai penanda risiko jatuh dan gelang/klip ungu sebagai  penanda DNR (  Do Not Resusitate ). 7.   Identitas pasien pada gelang identitas menggunakan stiker identitas dan tidak boleh ditulis tangan kecuali pada bayi baru lahir. 8.   Gelang identitas pasien mencakup 3 detail wajib yang dapat mengidentifikasi pasien, yaitu: a.    Nama lengkap pasien (sesuai KTP/SIM bila ada)  b.   Tanggal lahir pasien lengkap (tanggal/bulan/tahun) c.    Nomor rekam medis pasien 9.   Gelang identitas bayi baru lahir berisi nama ibu, jenis kelamin bayi, tanggal dan jam lahir bayi, cara kelahiran, berat badan dan panjang badan. Gelang identitas dipasang  pada ekstremitas bawah (pergelangan kaki). 10.   Pada pasien ibu melahirkan dipasang dua (2) gelang identitas (gelang identitas ibu dan gelang identitas bayi).   KEBIJAKAN DEDARI Tanggal Efektif : 20 April 2016 Lampiran SK No : 012/SKP/ RSIA.D/IV/2016 Revisi Ke : 02 Halaman : 1/4 RSIA DEDARI 11.   Gelang identitas dipasang oleh perawat pelaksana di unit dimana pasien dinyatakan rawat inap atau rawat one day care  (UGD, Unit Rawat Jalan dan Unit VK), jelaskan  prosedur identifikasi dan tujuannya kepada pasien. Untuk bayi baru lahir, pemasangan gelang identitas dilakukan di ruangan tempat bayi dilahirkan. 12.   Gelang identitas dipasang pada ekstremitas atas (pergelangan tangan), jika tidak dapat dipakaikan pada ekstremitas atas (pergelangan tangan), pakaikan pada ekstremitas  bawah (pergelangan kaki). Pada situasi dimana tidak dapat dipasang pada pergelangan tangan dan kaki, gelang identitas dapat dipakaikan pada baju pasien. Pada kondisi tidak memakai baju, gelang identifikasi harus menempel pada badan pasien dengan menggunakan perekat transparan/tembus pandang. 13.   Prosedur identifikasi pasien dilakukan pada saat: a.   Pemberian obat  b.   Pemberian darah atau produk darah c.   Pengambilan darah dan sampel lain untuk pemeriksaan klinis d.   Memberikan pengobatan dan melakukan tindakan/prosedur 14.   Gelang identitas hanya dilepas/digunting saat pasien pulang atau keluar rumah sakit oleh perawat pelaksana, Sedangkan gelang identitas ibu post partum yang pulang tidak digunting selama bayinya masih dalam perawatan. 15.   Pasien rawat inap dengan nama sama harus diberi tanda “ Hati-Hati Pasien dengan  Nama Sama ” pada  berkas rekam medis, formulir pengobatan dan semua formulir  permintaan penunjang. Pada pasien dengan nama yang sama dilakukan verifikasi dengan nomor rekam medis pasien. B.   Komunikasi Pemberian Informasi dan Edukasi yang Efektif 1.   Perintah lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. 2.   Perintah lisan dan melalui telepon atau hasil pemeriksaan secara lengkap dibacakan dan dikonfirmasi kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. 3.   Dokumentasi perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut dalam 1 x 24 jam. 4.   Komunikasi efektif terkait pasien secara lisan/telepon dilakukan dengan teknik SBAR ( Situation  –   Background  –   Assesment  –   Recommendation ) yang didokumentasikan dalam bentuk SOAP ( Subjective  –   Objective  –   Assesment  –   Planning  ). C.   Obat yang Perlu Diwaspadai ( High Alert Medications ) 1.   RSIA Dedari melakukan identifikasi terhadap obat yang perlu diwaspadai (  High Alert  Medications ). 2.   Obat yang perlu diwaspadai (  High Alert Medications ) disimpan di Unit Farmasi, UGD, Ruang Bersalin dan OK tetapi dipisahkan dari obat-obatan rutin lainnya. Khusus untuk elektrolit konsentrat disimpan pada restricted area /area dibatasi. 3.    High Alert Medications  di luar Unit Farmasi (UGD, Poliklinik, Rawat Inap, Kamar Operasi dan Ruang Bersalin) juga disimpan dalam troli berkunci dan emergency kit      KEBIJAKAN DEDARI Tanggal Efektif : 20 April 2016 Lampiran SK No : 012/SKP/ RSIA.D/IV/2016 Revisi Ke : 02 Halaman : 1/4 RSIA DEDARI yang pengawasannya dilakukan oleh petugas Unit Farmasi (apoteker/asisten apoteker) sekali dalam seminggu. 4.    High Alert Medications  berkemasan diberi stiker berwarna merah bertuliskan  High  Alert   dan tidak menutupi nama obat. Sedangkan  High Alert Medications  tablet, stiker  High Alert   ditempelkan pada kotak/wadah penyimpanannya. 5.    High Alert Medications  dengan dosis berbeda diberi stiker berwarna merah untuk dosis tinggi, oranye untuk dosis sedang, dan hijau untuk dosis rendah. 6.   Untuk obat golongan narkotika disimpan dalam sebuah lemari dengan pintu berlapis (2 lapisan) dan masing-masing pintu memiliki kunci yang salah satunya dipegang oleh petugas Unit Farmasi dan kunci lainnya dipegang oleh petugas Unit Farmasi lainnya/petugas Unit Pelayanan Keperawatan/petugas Unit Penunjang Medis yang sedang bertugas. 7.   Obat-obat kategori Norum/LASA diberikan stiker berwarna kuning bertuliskan LASA dan tidak menutupi nama obat, sedangkan untuk obat tablet stiker LASA ditempel  pada kotak simpan. 8.   Setiap pemberian obat kepada pasien harus menerapkan prinsip 7 B (Tujuh Benar) ialah benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara pemberian, benar waktu  pemberian, benar informasi, dan benar dokumentasi. 9.   Petugas farmasi menyerahkan obat pasien ke perawat pelaksana dalam bentuk One  Daily Dose , kemudian pelaksana membagi obat pasien kedalam bentuk Unit Daily  Dose  sesuai dengan resep dan instruksi dari farmasi. D.   Keselamatan Pembedahan 1.   Setiap pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan harus dilakukan proses asesmen pra-bedah dan verifikasi keselamatan pembedahan dengan menggunakan Surgical Safety Checklist   yang berisikan Sesi Sign In , Sesi Time Out  , Sesi Sign Out   2.   Penandaan lokasi operasi dilakukan pada organ yang terletak/terdapat pada 2 (dua) sisi tubuh kanan dan kiri, multiple struktur atau multiple level. 3.   Site Marking   (Penandaan lokasi operasi) dilakukan oleh operator bekerjasama dengan  pasien dan/atau keluarga. 4.   Site Marking dilakukan di unit tempat pasien dilakukan pemeriksaan pra pembedahan dan dilakukan verifikasi ulang pada fase Sign In  dan Time Out   di kamar operasi. 5.   Site Marking    dilakukan dengan memberikan tanda “O” pada area yang akan dilakukan insisi. 6.   Membe rikan tanda “O” pada daerah operasi dengan menggunakan tinta permanen, kecuali pada pasien bayi pemberian tanda “O” menggunakan tinta non permanen,   E.   Pengurangan Risiko Infeksi 1.   Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan di RSIA Dedari dilakukan dengan pelaksanaan kebersihan tangan. 2.   Kebersihan tangan dapat dilakukan dengan dua (2) cara, yaitu: a.   Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir   KEBIJAKAN DEDARI Tanggal Efektif : 20 April 2016 Lampiran SK No : 012/SKP/ RSIA.D/IV/2016 Revisi Ke : 02 Halaman : 1/4 RSIA DEDARI  b.   Mencuci tangan dengan menggunakan handrub berbasis alkohol 3.   Adapun 5 saat harus mencuci tangan (  Five Moments ) yaitu: a.   Sebelum kontak dengan pasien  b.   Sebelum tindakan asepsis c.   Sesudah terkena cairan tubuh pasien d.   Sesudah kontak dengan pasien e.   Sesudah kontak dengan lingkungan sekitar pasien F.   Pengurangan Risiko Pasien Jatuh 1.   Setiap pasien yang rawat jalan dan akan dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Dedari dilakukan asesmen awal sesuai Penilaian Risiko Pasien Jatuh. 2.   Penilaian risiko jatuh menggunakan  Morse Fall Score  untuk pasien dewasa,  Humpty  Dumpty  untuk pasien anak-anak, Ontario Modified Stratify-Sydney Score  untuk pasien geriatrik, dan Skala Get Up and Go  untuk pasien rawat jalan. 3.   Pasien neonatus (0-28 hari) dikategorikan pasien berisiko tinggi jatuh dan tidak perlu dipakaikan gelang/klip kuning. 4.   Pasien Rawat Inap dengan risiko jatuh mulai dari risiko sedang sampai risiko tinggi dipasang gelang kuning atau klip kuning, sedangkan Pasien Rawat Jalan dengan risiko  jatuh tinggi dikenakan kalung kuning bertuliskan “Risiko Jatuh”.  5.   Monitoring pasien dengan risiko jatuh dilakukan setiap setelah pasien jatuh, setiap terjadi perubahan kondisi, setiap menerima pindahan dari ruangan lain dan setiap  pergantian jaga. 6.   Tatalaksana pasien jatuh dilakukan untuk mengurangi risiko cedera berkelanjutan akibat jatuh. 7.   Setelah dilakukan monitoring risiko jatuh dua kali sejak penetapan pertama risiko sedang atau tinggi dan hasil yang didapatkan pasien berada dalam risiko rendah maka gelang kuning digunting (klip kuning dilepaskan) namun monitoring dilanjutkan hingga pasien dinyatakan pulang. Ditetapkan di: Kupang Pada tanggal: 20 April 2016 RSIA Dedari dr. E. Frank Touw, M.Kes Direktur  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks