of 15

KONSELING SEBAYA DALAM ISLAM UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KONSELING SEBAYA DENGAN MIND SKILLS

Description
Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793KONSELING SEBAYA DALAM ISLAM UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KONSELING SEBAYA…
Transcript
Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793KONSELING SEBAYA DALAM ISLAM UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KONSELING SEBAYA DENGAN MIND SKILLS Muhammad Husni1 1InstitutAgama Islam Al-Qolam, Gondanglegi, Malang Email : husninanang73@gmail.comAbtsract Counseling is one of the counseling services, which serves to help the counselee gain understanding and clarify his views, to be used throughout his life, so he can make choices that are desirable and useful. Peer counseling skills, can occur when counselors are able to use counseling techniques and communication as well as mind-managing skills, called mind skills, which can be trained with experiential learning. This paper attempts to provide arguments and theoretical foundations about; the importance of peer counseling and counseling in Isalam, in enhancing peer counseling skills with mind skills in each counseling, since empirical studies have found that there are some counselors who can not provide comprehensive counseling services. Counselors in the field tend to be trapped with their own thoughts, so often overwhelmed by negative self-talk, and more play the role of a more experienced man, and then move his experience to the counselee Keywords : Koseling sebaya, Islam Mind Skills Pendahuluan Bimbingan dan Konseling Islam merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individuatau kelompok masyarakat dengan dirinya dan masyarakat. Landasan (pondasi atau dasar pijakan utama) Bimbingan dan Konseling Islam adalah Al-qur’an dan Al-hadits, sebab keduanya merupakan sumber segala sumber pedoman kehidupan umat Islam. Bimbingan dan Konseling Islam juga merupakan bagian tujuan dakwah Islam. Karena dakwah yang terarah adalah memberikan Bimbingan kepada umat Islam untuk betul-Konseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌47Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793betul mencapai dan melaksanakan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Proses Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan melalui berbagai cara, tidak hanya melalui tatap muka, tetapi juga bisa dilakukan melalui media komunikasi, seperti Radio, Televisi, Film dan juga media komunikasi lainnya. Keberhasilan aktivitas konseling ditentukan oleh komunikasi yang efektif antara konselor dan klien. Dalam hal ini konselor dituntut untuk mampu berkomunikasi secara efektif untuk menunjang pelaksanaan proses konseling. Adapun keterampilan komunikasi Konseling yang dimaksud yaitu meliputi: pembukaan, penerimaan, pengulangan pernyataan membantu para siswamenyadari kekuatan-kekuatan mereka sendiri, menemukan hal-hal yang merintangi penggunaan kekuatan-kekuatan itu, dan memperjelas tujuan yang mereka inginkan (Corey, 2009). Sebagai sebuah keterampilan (counseling as the art), palaksanaan konseling sangat tergantung pada kompetensikonselorpelaksananya. Konselor diharapkan dapat memberikan layanan konseling yang memandirikan konseli dalam menjalani kehidupannya melalui pengambilan keputusan dalam hal belajar, pribadi, sosial dan karier. Selain itu, konselor senantiasa dituntut untuk memiliki motif naltruistik, selalu bersikap empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya (ABKIN, 2007). Dengan kata lain, konselor harus menjadi seorang reflective practitioner, yang dalam setiap tindak layanan konselingnya senantiasa melakukan refleksi dan berpikir sebelum bertindak tujuan untuk memfungsikan seoptimal mungkin nilai-nilai keagamaan dalam kebulatan pribadi atau tatanan masyarakat sehingga dapat memberikan manfaat bagi mendengarkan, mengamati, menanggapi, klarifikasi, pemantulan perasaan, pemantulan makna, pemusatan, penstrukturan, pengarahan, penguatan, nasehat, penolakan, ringkasan, konfrontasi, penghentian, dan mempengaruhi tindakan untuk kepentingan konseli mengecek kembali tindakan yang sudah dilakukan, serta melakukan perbaikan terhadap tindakan yang kurang sesuai secara berkelanjutan. Melihat peran dan kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh konselor dalam rangka pemberian layanan konseling, idealnya layanan konseling di sekolah benar-benar berjalan seperti yang diharapkan yaitu layanan konseling yang berkualitas, dalam artian pelibatan diri konselor dimana karakteristik kepribadian konselor menjadi faktor yang mempengaruhi jalannya konseling, penggunaan keterampilan komunikasi yang baik dan teknik-teknik konseling yang ada, serta tercapainya tujuan untuk membantu konseli memenuhi kebutuhan untuk hidup yang berarti. Harapan ideal seperti yang dinyatakan di atas ternyata bertolak belakang dengan kenyataan sesungguhnya di sekolah48Konseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793(Setiyowati, 2011). yang melakukan penelitian evaluatif terhadap tindak konseling konselor di Kota Malang menunjukkan bahwa sebagian besar layanan konseling. Konseling merupakan salah satu layanan utama dalam bimbingan dan konseling di sekolah. Layanan ini merupakan bagian dari layanan responsif, yaitu layanan pemberian bantuan yang bersifat segera kepada siswa yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang mendesak, sehinggabila dibiarkan berlarut-larut akan berpotensi untuk menimbulkan gangguan lebih lanjut. Layanan ini berfungsi untuk membantu siswa mendapatkan pengertian dan memperjelas pandangannya untuk digunakan sepanjang hidup sehingga iadapat menentukan pilihan yang berguna sesuai kondisi esensial khusus sekitarnya (McLeod, 2003). Dalam kalimat lain, konseling bertujuan untuk dampak dari pembelajaran konseling yang tidak maksimal di pendidikan prajabatan (S1). Untuk dapat memberikan konseling yang profesional, setidaknya konselor harus menguasai keterampilan teknis konseling dilengkapi dengan unjuk ciri kepribadian yang empatikyang didasari oleh motif-motif altruistik. Sementara itu, pembelajaran konseling di tingkat S1 hanya berfokus pada penguasaan teknik-teknik konseling tanpa diikuti dengan upaya membentuk kemampuan internalnya. Dengan pembelajaran yang demikian, teknik-teknik konseling mungkin akan dapat dikuasai oleh mahasiswa, namun ia tidak akan dapat menjalankan konseling yang terapeutik saat berhadapan dengan konseli sebenarnya di lapangan. Dalam bahasa lain, pembelajaran hanya akan membentuk “tukangâ€? konseling dan bukan profesional dalam layanan konseling. Salah satu kemampuan internal yang harus dibentuk agar calon konselor dapat menjalankan konseling dengan profesional adalah kompetensi mengelola pikiran atau lebih dikenal dengan minds kills. Minds kills terdiri atas enam komponen, yaitu: menciptakan peraturan yang membantu, menciptakan persepsi yang membantu, menciptakan wicara diri yang membantu, menciptakan citra visual yang membantu, menciptakan penjelasan yang membantu, dan menciptakan pengharapan yang membantu. Penguasaan minds killyang baik akan membuat mahasiswa mampu mengelola proses konseling dan menjalankan teknik-teknik yang sudah dikuasainya dengan baik sehingga akan bermuara pada keberhasilan konseling yang dilakukan demitercapainya kemaslahatan konseli (Sutanto, 2008). Namun sayangnya, kebutuhan akan penguasaan minds kills yang demikian besar tidak diimbangi dengan proses pembelajaran yang memadai di pendidikan prajabatan konselor. Temuan Hidayah (2009) menjelaskan bahwaKonseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌49Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793pendidikan prajabatan konselor belum sampai pada pengembangan minds kills, tetapi baru sampai pada area transfer pengetahuan. Lebih-lebih lagi, dalam kurikulum di semua lembaga pendidik calon konselor masih belum terdapat mata kuliah khusus untuk membahas dan melatihkan minds kills. Hal ini dimungkinkan karena terdapat asumsi bahwa keterampilan-keterampilan internal, seperti minds kills danempati, akan berkembang secara otomatis sebagai nurturant effect dari penguasaan teknik-teknik konseling. Kenyataannya, asumsi tersebut tidak terbukti. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian yang menjumpai bahwa penguasaan para mahasiswa terhadap teknik dan prosedur konseling sudah baik, namun ketika mereka dihadapkan pada konseling sesungguhnya, mereka masih merasa was-was dan takut dalam melakukan kesalahan, ingin segera mengakhiri konseling, yang akhirnya berakibat pada kacaunya proses konseling yang dilakukan (Hidayah, 2012). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterampilankonseling mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan prajabatan berkorelasi dengan keterampilan konselor yang sudah berpraktek di lapangan.Karenanya, diperlukan upaya yang sistematis dan ilmiah untuk secepat mungkin membenahi pembelajaran konselingpada pendidikan prajabatan konselor agar di kemudian hari pendidikan tersebut menghasilkan konselor-konselor yang terampil dan profesional, khususnya dalam memberikan layanan konseling. Mind Skills dalam Bimbingan dan Konseling Islam Bimbingan dan Konseling Islam merupakan proses aktivitas pemberian bantuan terhadap sesorang agar mampu hidup sesuai dengan ketentuan dan petujuk Allah, sehingga diharapkan dapat bahagia hidup di dunia dan akherat. Sedangkan Konseling Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali akan eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petujuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat (Musnamar, 1992). Menurut menurut Faqih (2004), Bimbingan dan Konseling Islam merupakan aktivitas pemberian bantuan kepada sesorang agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah agar bahagia hidup di dunia dan akhirat. Pentingnya mind skills dalam konseling konselor yang efektif adalah konselor yang mampu menggunakan keterampilan konseling secara komprehensif, sehingga dapat menyertai konselinya dalam keseluruhan proses konseling. Keterampilan menyertai konseli dapat terjadi ketika konselor mampu menggunakan tidak saja teknik-teknik dan komunikasi konseling, tapi juga keterampilan mengelola pikiran yang disebut mind skills. Mind skills dapat50Konseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793dimaknai sebagai suatu keterampilan konselor dalam mengelola proses yang terjadi dalam pikiran, meliputi mendefinisikan proses yang terjadi dalam kognisi, memaknai, merefleksi, dan merevisi proses berpikir tersebut sehingga bermuara pada seleksi komponen berpikir yang terarah. Dengan keterampilan tersebut, seorang konselor dapat meninjau kembali tindakan-tindakan yang telah dilakukan dalam konseling dan melakukan refleksi tertentu pada tindakan berikutnya secara berkelanjutan sehingga konseling yang dilakukan dapat berlangsung secara tepat dan efektif (Jones, 2005). Menurut Jones, mind skills merupakan keterampilan yang harus dikembangkan oleh konselor agar ia dapat menjalankan proses konseling dengan lebih efektif. Keterampilan ini dapat berkembang dengan baik jika konselor mampu memanfaatkan potensi-potensi pikiran yang ia miliki. Dengan mengelola potensi pikiran yang dimiliki, konselor dapat mengontrol cara berkomunikasi dan cara berperilaku dalam konseling, sehingga bermuara pada konseling yang memperhatikan kemaslahatan konseli (Jones, 2003). Terdapat beberapa keuntungan yang akan diperoleh ketika konselor mampu mengelola mind skillnya dengan baik, di antaranya adalah: (1) Konselor dapat menyadari dan memahami bahwa ia memiliki kemampuan untuk berpikir dengan kesadaran super (super-conscious thinking) yang dapat dikembangkannya menjadi lebih baik. (2)Konselor dapat bertindak dengan lebih efektif jika ia mampu melihat proses mental yang terjadi dalam setiap pilihan tindakan yang diambilnya dalam konseling, sehingga ia memiliki kesempatan untuk menyadari, mengukur, dan mengontrol keterampilan berpikir (mind skills) yang dimilikinya. (3) Konselor dapat melatih keterampilan berpikir (mind skills) yang dimilikinya sebaik ia melatih keterampilan komunikasi atau penguasaan teori dan teknik konseling, sehingga pada akhirnya ia dapat mengembangkan keterampilan konseling yang dimilikinya dengan lebih tepat dan efektif. Jones (2003) mendeskripsikan bahwa terdapat enam komponen mind skills yang seharusnya dimiliki oleh konselor agar ia dapat menjalankan konseling dengan baik, yaitu:menciptakan peraturan yang membantu, mencitakan persepsi yang membantu, menciptakan wicara diri yang membantu, menciptakan citra visual yang membantu, menciptakan penjelasan yang membantu, dan menciptakan pengharapan yang membantu. Menciptakan Peraturan yang Membantu. Peraturan diartikan sebagai sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang. Setiap konselor memiliki peraturan-peraturan tertentu dalam dirinya yang pada akhirnya akan menjadi ukuran dasar bagaimana ia bisa menjalani kehidupan danKonseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌51Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793pekerjaannya. Dalam menyelenggarakan layanan konseling, konselor perlu untuk menciptakan peraturan yang membantu sehubungan dengan siapa dirinya, siapa konseli yang dilayaninya, dan bagaimana sifat hubungan konseling yang sedang dibangunnya. Menciptakan peraturan yang membantu berarti konselor perlu membuat peraturan yang realistis dan preferensial, bukan yang bersifat absolut dan tidak realistis. Peraturan yang membantu akan membuat konselor dapat menempatkan diri sesuai dengan porsinya, tidak memaksakan diri ketika melakukan konseling, yang bermuara pada tercapainya tujuan konseling. Menciptakan Persepsi yang Membantu. Persepsi diartikan sebagai tingkat akurasi atau ketepatan konselor dalam menyadari dan menilai dirinya sendiri, orang lain dan situasi. Menciptakan persepsi yang membantu diarahkan pada persepsi positif terhadap diri sendiri sebagai profesional penyelenggara layanan konseling, terhadap konseli yang dilayani, maupun terhadap proses konseling yang dijalankannya. Dengan memanfaatkan keterampilan menciptakan persepsi yang membantu, konselor akan melihat permasalahan dari banyak sudut pandang, sehingga akan mengarahkannya pada kesimpulan, sikap dan tindakan yang positif. Menciptakan Wicara Diri yang Membantu Percakapan yang terjadi dalam konseling setidaknya terdiri dari tiga hal, yaitu percakapan umum antara konselor dan konseli, percakapan dalam diri konseli, dan percakapan dalam diri konselor. Wicara diri dalam hal ini difokuskan pada tekhnik, bagaimana konselor memberikan instruksi kepada dirinya (self-talk) secara positif, mengenai apa yang harus dipikirkannya pada awal, proses, dan akhir layanan konseling. Fungsi wicara diri secara khusus adalah untuk memfokuskan pikiran konselor sehingga mampu menangkap apa yang dikatakan oleh konseli dengan tepat, mampu merespons dengan tepat, tidak bermain dengan anganangannya sendiri ketika melakukan konseling, sehingga konseling bisa berjalan dengan fokus dan terarah. Menciptakan Citra Visual yang Membantu. Ketika mengalami perasaan yang bersifat signifikan, seseorang biasanya menggambarkan apa yang ia rasakan dalam pikiran. Begitu pula, apa yang diceritakan oleh orang lain juga direspons dengan menggambarkannya dalam kepala menggunakan gambargambar tertentu. Semakin baik seseorang terlibat dalam apa yang diceritakan oleh orang lain, maka semakin baik pula ia menggambarkan hal tersebut di kepala. Konselor hendaknya menggambarkan secara visual di dalam kepala apa yang diceritakan oleh konselinya sehingga ia mampu membaca dengan tepat bagaimana alur pikir konseli yang sedang dihadapinya. Dimensi lain52Konseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793yang harus dilakukan oleh konselor adalah menghilangkan gambaran negatif yang tidak perlu sehingga tidak mengganggu jalannya konseling. Menciptakan Penjelasan yang Membantu. Penjelasan adalah alasan-alasan yang diberikan oleh individu kepada diri mereka sendiri untuk segala sesuatu yang terjadi. Penjelasan akan berpengaruh pada perasaan, reaksi fisik, dan tindakan individu. Konselor harus dapat menciptakan penjelasan yang membantu. Penjelasan dalam hal ini adalah penjelasan mengenai permasalahan yang dihadapinya dan yang dibawa oleh konselinya. Dengan menciptakan penjelasan atas penyebab permasalahan, konselor diharapkan dapat mendiagnosa permasalahan konseli dengan tepat. Hal ini akan membuat konselor mampu membantu konseli menemukan penyelesaian masalah yang tepat serta mencapai tujuan konseling sebagaimana yang diharapkan. Menciptakan Pengharapan yang Membantu Pengharapan seseorang akan mempengaruhi perasaannya, perasaan orang lain, reaksi fisik, pendapat, serta kemampuannya berkomunikasi dengan orang lain. Dalam konseling, menciptakan pengharapan yang membantu berarti bahwa konselor menciptakan pengharapan-pengharapan yang realistis tentang tingkat kemampuannya sendiri untuk mengatasi situasi dan orang-orang sulit. Melatih Pengelolaan Mind Skill dengan Experiential Learning. Untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam konseling, baik keterampilan eksternal maupun internal termasuk mind skills, mahasiswa harus mempelarinya dengan mengalami langsung. Mengalami langsung akan membuat mahasiswa tidak hanya memahaminya secara kognitif, namun juga mempraktikkannya dalam seting nyata. Metode pembelajaran dengan mengalami langsung dikenal dengan experiential learning (EL). EL menunjukkan suatu siklus model belajar yang terdiri dari empat tahap: (1) pengalaman konkrit, (2) observasi reflektif, (3) konseptualisasi abstrak, dan (4) eksperimentasi aktif (Kolb, 1984). Siklus ini menunjukkan bagaimana pengalaman diwujudkan melalui refleksi ke dalam konsep-konsep, yang pada gilirannya digunakan sebagai panduan untuk eksperimentasi aktif. Tahap pertama, pengalaman konkrit merupakan tahap di mana pebelajar mengalami secara aktif suatu aktivitas seperti suatu sesi laboratorium atau kerja lapangan. Tahap kedua, observasi reflektif, adalah ketika pebelajar dengan sadar merefleksi kembali pengalaman tersebut. Tahap ketiga, konseptualisasi abstrak, adalah di mana pebelajar mencoba untuk mengkonseptualisasikan suatu model dari hasil merefleksi di tahap sebelumnya. Tahap yang keempat, eksperimentasi aktif, adalah di mana pebelajar mencoba untuk mengeksperimenkan model yang diperoleh di tahapKonseling Sebaya dalam Islam untuk Meningkatkan Keterampilan ‌53Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 01, Januari-Juni 2017 ISSN : 2354-7960, E-ISSN : 2528-5793ketiga untuk memperoleh pengalaman yang akan datang. Merupakan suatu proses transformasi pengalaman yang terus menerus. Hal utama dalam proses belajar adalah aktivitas atau melakukan (learning by doing). Dalam proses experiential learning,individu bersifat aktif sebagai partisipan, bukan penonton; memerlukan keterlibatan dan tanggung jawab; aktivitas belajarnya nyata dan bermakna dalam konteks konsekuensi alamiah bagi pebelajarnya. Terdapat sejumlah bukti penelitian yang menunjukkan bahwa EL sangat tepat digunakan untuk melatihkan keterampilan-keterampilan dalam konseling. Penelitian yang dilakukan oleh Muslihati menyimpulkan bahwa EL merupakan metode yang tepat untuk menanamkan kesadaran multibudaya dalam konseling (Muslihati, 2011). Demikian pula, penelitian yang dilakukan oleh Simon menjelaskan bahwa kemampuan coping self-talk mahasiswa semakin meningkat jika dilatihkan dengan EL (Simon, 2011). Hidayah juga mengungkapkan hal yang sama, yaitu EL sangat tepat untuk mengembangkan mind competence calon konselor (Hidayah, 2009). Dengan demikian, internalisasi mind skills sebagai salah satu keterampilan dasar dalam konseling hanya akan terjadi jika mahasiswa mengalaminya secara langsung apa yang akan diinternalisasi. Mind skills sebagai salah satu jenis keterampilan kon
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks