of 9

Lp Apendiktomi Ok9

Description
ozin
Transcript
  LAPORAN PENDAHULUAN PENATALAKSANAAN OPERASI APPENDIKTOMI TERBUKA RUANG OK 9 IBS RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA   Disusun oleh : NURHOZIN   PELATIHAN KAMAR BEDAH   RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. MOEWARDI 2018  A.   Pengertian Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis.Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis (Ovedolf, 2006). Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena struktur yang terpuntir, appendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang, 2010) Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009). B.   Etiologi Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu (Nuzulul, 2009): 1.   Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena: a.   Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.  b.   Adanya faekolit dalam lumen appendiks c.   Adanya benda asing seperti biji-bijian d.   Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya. 2.   Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus 3.   Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja dewasa).Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut. 4.   Tergantung pada bentuk apendiks: a.   Appendik yang terlalu panjang  b.   Massa appendiks yang pendek c.   Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks d.   Kelainan katup di pangkal appendiks C.   Manisfestasi Klinis Berikut merukan beberapa tanda dan gejala apendiksitis menurut (Corwin, 2009): 1.    Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. 2.    Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan. 3.    Nyeri tekan lepas dijumpai. 4.   Terdapat konstipasi atau diare. 5.    Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.  6.    Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal. 7.    Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. 8.   Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis. 9.   Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan. 10.   Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi akibat ileus  paralitik. 11.   Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.  Nama pemeriksaan Tanda dan gejala Rovsing’s sign  Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada sisi kanan. Psoas sign atau Obraztsova’s sign  Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif jika timbul nyeri  pada kanan bawah. Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif jika timbul nyeri  pada hipogastrium atau vagina. Dunphy’s sign  Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah dengan  batuk Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut pada korda spermatic kanan Kocher (Kosher)’s sign  Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke kuadran kanan  bawah. Sitkovskiy (Rosenstein)’s sign  Nyeri yang semakin bertambah pada perut kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan pada sisi kiri Aure- Rozanova’s sign  Bertambahnya nyeri dengan jari pada  petit triangle  kanan (akan positif Shchetkin- Bloomberg’s sign)  Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan tiba-tiba  D.   Patofisiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu  pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih  pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua  perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007) . E.   Pemeriksaan Penunjang 1.   Laboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya  proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%. 2.   Radiologi
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks