of 26

Makalah Kita

Description
Makalah Kita
Transcript
  1 BAB 1 PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Untuk dapat menuliskan resep yang tepat dan rasional seorang dokter harus memiliki cukup pengetahuan dasar mengenai ilmu-ilmu farmakologi yaitu tentang farmakodinamik, farmakokinetik, dan sifat-sifat fisiko kimia obat yang diberikan. Oleh karena itu dokter memainkan peranan penting dalam proses pelayanan kesehatan khususnya dalam melaksanakan pengobatan melalui pemberian obat kepada pasien. Pemberian obat lebih dari satu macam yang lebih dikenal dengan polifarmasi ini disamping dapat memperkuat kerja obat (potensiasi) juga dapat berlawanan (antagonis), mengganggu absorbsi, mempengaruhi distribusi, mempengaruhi metabolisme, dan mengganggu ekskresi obat yang disebabkan oleh terjadinya interaksi obat. Yang dimaksud dengan interaksi obat ialah reaksi yang terjadi antara obat dengan senyawa kimia (obat lain, makanan) di dalam tubuh maupun pada  permukaan tubuh yang dapat mempengaruhi kerja obat. Dapat terjadi peningkatan kerja obat, pengurangan kerja obat atau obat sama sekali tidak menimbullkan efek. Interaksi obat yang terjadi di dalam tubuh yaitu interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik sering kali lolos dari pengamatan dokter karena kurangnya  pengetahuan dari mekanisme dan kemungkinan terjadinya interaksi obat, selain itu kurangnya pengetahuan dokter mengenai farmakologi (farmakodinamik dan farmakokinetik) suatu obat dapat mengakibatkan tidak rasionalnya penulisan resep  jika ditinjau dari interaksi obat yang terjadi, keadaan ini akan mengakibatkan kerugian pada pihak pasien yang dapat berujung kepada kematian. Analisis resep dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa kerasionalan resep yang diterima oleh pasien dan mengidentifikasi adanya masalah terkait obat dalam resep tersebut.  2 B.   Tujuan Untuk menganalisa kerasionalan resep yang diterima oleh pasien dalam mengidentifikasi adanya masalah terkait obat dalam resep tersebut. C.   Manfaat Dapat mempelajari, mengidentifikasi dan memahami masalah terkait  pengobatan (Drug Related Problem/DRP).  3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.   Regulasi Regulasi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Nomor 35 Tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Berdasarkan kewenangan pada peraturan perundang-undangan, Pelayanan Kefarmasian telah mengalami perubahan yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan Obat ( drug oriented  ) berkembang menjadi pelayanan komprehensif meliputi pelayanan Obat dan  pelayanan farmasi klinik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan  pengobatan ( medication error) dalam proses pelayanan dan mengidentifikasi, mencegah, serta mengatasi masalah terkait Obat ( drug related problems) , masalah farmakoekonomi, dan farmasi sosial (  socio-pharmacoeconomy ) . Untuk menghindari hal tersebut, Apoteker harus menjalankan praktik sesuai standar pelayanan. Apoteker  juga harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan Obat yang rasional. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran orientasi Pelayanan Kefarmasian dari  pengelolaan Obat sebagai komoditi kepada pelayanan yang komprehensif (  pharmaceutical care ) dalam pengertian tidak saja sebagai pengelola Obat namun dalam pengertian yang lebih luas mencakup pelaksanaan pemberian informasi untuk mendukung penggunaan Obat yang benar dan rasional, monitoring penggunaan Obat untuk mengetahui tujuan akhir, serta kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan. Pelayanan farmasi klinik di Apotek merupakan bagian dari Pelayanan yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang  pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.  4 Salah satu pelayanan kefarmasian kepada pasian dengan cara melakkan  pengkajian resep. Kegiatan pengkajian Resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis. 1.   Kajian administratif meliputi: a.   nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan;  b.   nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan  paraf; dan c.   tanggal penulisan Resep. 2.   Kajian kesesuaian farmasetik meliputi: a.    bentuk dan kekuatan sediaan;  b.   stabilitas; dan c.   kompatibilitas (ketercampuran Obat). 3. Pertimbangan klinis meliputi: a.   ketepatan indikasi dan dosis Obat;  b.   aturan, cara dan lama penggunaan Obat; c.   duplikasi dan/atau polifarmasi; d.   reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat, manifestasi klinis lain); e.   kontra indikasi; dan f.   interaksi. Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka Apoteker harus menghubungi dokter penulis resep. B.   DRP ( Drug Related Problems )  Drug Related Problem (DRP)  atau masalah terkait obat adalah bagian dari asuhan kefarmasian (pharmaceutical care) yang menggambarkan suatu keadaan, dimana profesional kesehatan (apoteker) menilai adanya ketidaksesuaian pengobatan dalam mencapai terapi yang sesungguhnya (Hepler, 2003).
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks