of 6

Perkembangan Pemikiran Filsafat Hukum

Description
FILSAFAT HUKUM (ESSAY)
Transcript
  PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN PANDANGAN MANUSIA DALAM FILSAFAT HUKUM HINGGA KONSEPSI MENGENAI KEADILAN Aprilian Sumodiningrat Universitas Jember Email : hackaprilian@gmail.com Abstract Pemahaman mengenai konsep keadilan, berbanding terbalik dengan pembacaan teks mengenai definisi keadilan, yang diutarakan oleh para ahli, dan sarjana Hukum. Penyebabnya adalah, dalam pemahaman makna seringkali kita perlu bergelut dalam tataran filosofis yang perlu  perenungan secara mendalam sampai pada hakikat yang paling mendalam. 1  Filosofi inti dari hakekat hukum adalah keadilan, tanpa adanya keadilan yang menjadi tujuan untuk ditegakkan, dengan apa yang dicita citakan, sehingga hal tersebut membuat adanya instabillitas antara  penegakan hukum serta tujuan keadilan. Keadilan hanyalah menjadi jargon, tanpa didukung realitas hukum yang ada. Persinggungan antara Keadilan, Kepastian, dan Ketertiban hukum, menjadi issue yang krusial. Hal itu yang kemudian menjadi batu sandungan dalam setiap  penegakan hukum. Penegak Hukum dihadapkan dengan dilema besar antara kepastian, keadilan, dan ketertiban hukum. Ketika penegak hukum mengutamakan kepastian hukum, maka keadilan dan ketertiban hukum yang dicita citakan harus dikorbankan. 2   PANDANGAN HUKUM ZAMAN YUNANI KUNO : DARI ARISTOTELES HINGGA PLATO Pada masa lalu, konsep diambil dari pemikiran tentang sikap atau perilaku manusia terhadap sesamanya dan terhadap alam lingkungannya, pemikiran tersebut dilakukan oleh kalangan filosof. Dala m konsep Plato tentang keadilan Plato mengatakan “ let us enquire first what it is the cities, then we will examine it in the single man, looking for the likeness of the larger in the shape of the smaller  ”. Menurut pandangan Plato, keadilan timbul karena adanya penyesuaian 1   Angkasa,  Filsafat Hukum , (Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman, 2010), hlm.105   2   Anthon F. Susanto,  Ilmu Hukum Non Sistematik: Fondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia , (Yogyakarta: Genta Publishing,, 2010), hlm. 138.    selaras dalam bagian - bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan dapat terwujud apabila setiap masyarakat dapat berperan menurut kemampuan, dan fungsi yang selaras untuknya 3 . Aristoteles juga memberikan pemaparan yang lebih rinc mengenai konsep keadilan. Apabila keselarasan dan keharmonisan lebih ditekankan dalam teori Plato sebelumnya, maka Perimbangan dan proporsionalitas dalam teori Aristoteles yang kemudian lebih di tekankan. Aristoteles beranggapan, bahwa cita cita yang mulia, haruslah mendasari segala hal dalam sebuah negara. Seluruh kebaikan kebaikan cita cita tersebut haruslah terwujud dalam sebuah jalan kebenaran, dan keadilan. Dalam teori keadilan very Aristoteles ini, penekanan perimbangan atau  proporsionalitas, tercermin dari apa apa yang dilakukannya, serta konsep kesamaan hak diantara orang orang yang sepadan atau sama. 4   PANDANGAN HUKUM PADA ZAMAN ROMAWI Di awal awal masa kelahiran peradaban romawi, di abad ke 8 Sebelum masehi, lahir  peraturan peraturan yang khusus diperuntukkan di kota kota romawi,yang kemudian dalam  perkembangannya menjadi universal. Kemudian, peraturan tersebut dikenal dengan sebutan ius gentium , yang dapat diartikan sebagai sebuah hukum yang dapat diterima oleh bangsa bangsa untuk pedoman hidup bermasyarakat dan berbangsa yang beradab. Kekasiaran Romawi Timur, atau yang lebih dikenal sebagai Kekaisaran Byzantium, merupakan Kekaisaran yang pertama kalinya mengembangkan hukum Romawi, yang kemudian dilanjutkan ke generasi selanjutnya dalam bentuk buku  –   buku (Caudex). Kaisar Yustisianus, tercatat pada tahun 528  –   534 sebagai seorang kaisar yang memerintahkan agar semua peraturan  perundangan dikumpulkan menjadi satu, kedalam satu Kodeks (Caudex). Hal itu kemudian dikenal dengan sebutan “Codex Juris R  aumaui/Codex Iustinianus/Corpus Juris Civilis ” . Sejalan dengan  pengembangan tersebut, beberapa abad kemudian kekaisaran Jerman mempraktekkan kembali sistim tersebut. Dan hingga saat ini, hukum romawi menjadi kiblat dari perkembangan hukum  perdata modern dalam code civil napoleon tahun 1804. 5   3   The Liang Gie, Teori-teori Keadilan , (Yogyakarta: Sumber Sukses, 2002), hlm. 22.   4   J.H. Rapar,  Filsafat Politik Plato , (Jakarta: Rajawali Press, 2019) hlm. 82   5  Abdul Ghofur Anshori, Filsafat hukum sejarah, aliran dan pemaknaan  (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006).    HUKUM PADA ABAD PERTENGAHAN Kemajuan Peradaban Barat, diawali dengan masuknya Kekhalifahan Bani Umayyah ke Andalusia (Spanyol) pada masa kepemimpinan Abdurrahman Ad-Dakhil pada tahun 755 Masehi. Dibawah kepemipinan Abdurrahman Ad-Dakhil, banyak didirikan masjid, sekolah, serta  perpustakaan perpustakaan di Cordova. Sejak saat itulah, kemudian lahir ilmuwan dalam bidang  –   bidang tertentu dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Ibn Abbas dalam keilmuan Farmakologi, Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash yang membidangi keilmuan astronomi, dialah orang pertama yang menemukan teropong bintang, serta dengan keilmuannya dapat menghitung gerhana, didalam keilmuan Sejarah dan Geografi, lahir pula Ibnu Jubair, Ibn Batuthah, Ibn alKhatib, dan Ibn Khaldun. Ancilla Theologiae, merupakan paham yang lahir pula dalam bidang hukum di periode ini. Paham ini menetapkan agar hukum hukum yang diterapkan wajib dicocokkan dengan ketentuan ketentuan yang telah ada, yakni berdasarkan ketentuan agama. Pada pertengahan abad ini, teori tori tentang hukum dikemukakan oleh Agustinus (354-430), Thomas Aquinas (1225-1275), serta sarjana sarjana Islam; AI-Safii (820). Agustinus beranggapan, hukum dapat pula disebut hukum alam, yang mana memiliki prinsip;  Jangan lakukan suatu hal kepada orang lain, apa yang engkau tidak ingin hal itu terjadi kepadamu. Prinsip ini mencerminkan subuah rasa keadilan. 6   DARI WAKTU KE WAKTU : PANDANGAN PANDANGAN TENTANG HUKUM Ketika Dunia Peradaban Islam mengalami berbagai macam peningkatan, Orang orang  barat mulai tertarik untuk bersinggah kedalam Dunia Islam. Ketika itu mulai banyak berdatangan orang orang barat untuk kemudian mempelajari tentang ilmu filsafat, dan ilmu pengetahuan lainnya. Berbagai pemikiran pemikiran ilmiah, rasional, filosofis, serta sains Islam mulai menginduksi ke daratan eropa. Peristiwa tersebutlah yang menjembatani pertukaran informasi, ilmu pengetahuan, dan filsafat antara Barat dan Islam. Dialektika tersebut ternyata kemudian 6  Anshori.  mampu menghantarkan eropa pada kebangkitan dan kejayaannya kembali, (renaisance) dalam ilmu pengetahuan serta filsafat. 7   PERKEMBANGAN PANDANGAN HUKUM DAN KEADILAN DALAM PEMIKIRAN MODERN Di era modern, berkembangnya pemikiran-pemikiran tentang kebebasan mewarnai ragam dari Konsep Keadilan, sebagai contoh adalah pemikiran liberalisme. Penganut aliran ini, menggunakan prinsip dalam ajaran Stoikisme (Stoa) termasuk lebih khususnya dalam hal  penggunaan akal, dan sanksi moral, yang mendasari nilai, serta ajaran etika daripada aliran ini., sanksi moral dan penggunaan akal. Pemerintahan Demokrasi yang menjamin adanya sebuah kebebasan, juga tercermin dalam bidang politik aliran ini. Kemerdekaan individu menjadi titik tekan utama dalam tradisi Liberalisme. Erat kaitannya istilah liberalisme dengan kebebasan, karena semua pemikiran liberalism bertumpu pada kebebasan yang menjadi hal paling utama. 8  Keadilan dalam konteks pemikiran modern, dalam kamus Bahasa Indonesia istilah keadilan berasal dari kata adil, atau tidak memihak, tidak sewenang-wenang, sepatutnya. Keadilan dapat diartikan sebagai perbuatan atau sikap yang adil. Istilah keadilan sendiri dalam literatur inggris disebut sebagai “justice” yang pada kata dasarnya adalah “jus”. “jus” berarti hukum atau hak. Maka, pengertian “justice” dapat berarti hukum . Makna mengenai pemikiran pemikiran dari arti sebuah keadilan, selalu berkembang seiring  berjalannnya waktu, dimulai dengan definisi “keadilan” yang juga berarti hukum, hingga  perkembangan pemaknaan “keadilan” adalah sebagai sebuah “keabsahan” (lawfulness) . Terdapat terminology lain, daripada pengertian mengenai keadilan, yang kemudian memilliki makna yang meluas, yaitu “fairness” atau dapat dipadankan dengan frasa kelayakan . Keadilan dalam terminologi “kelayakan”, ataupun pantas , dapat kita tinjau berdasarkan peristilahan dalam keilmuan hukum. Sebagai contoh, “priciple of fair play” atau dapat disebut sebagai asas umum dalam pemerintahan yang baik  , “fair wage” atau dapat diartikan sebagai kelayakan upah yang diberikan, yang mana istilah tersebut sering kita jumpai dalam hukum ketenagakerjaan. Kemudian Aristoteles juga memiliki gagasan yang dia kemukakan dalam konsep keadilannya, yaitu “fairness in human action”, yang dapat diartikan bahwasanya kelayakan tindakan manusia merupakan 7  Anshori. 8  L yman Tower Sargent,  Ideologi-Ideologi Politik Kontemporer  , (Jakarta: Erlangga, 2001).  
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks