of 24

Tokoh Edisi 966 | Tokoh

Description
24Edisi 966/ 21 - 27 agustus 2017redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.comcybertokoh@cybertokoh@cybertokohwww.cybertokoh.com2Edisi 966/ 21 - 27 agustus…
Transcript
24Edisi 966/ 21 - 27 agustus 2017redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.comcybertokoh@cybertokoh@cybertokohwww.cybertokoh.com2Edisi 966/ 21 - 27 agustus 2017GORO-GORO Wa r g a nyaris berg­ erak melabrak seorang penghuni baru yang radikal. Ia baru seminggu ngontrak rumah Bu Nyo­ Putu Wijaya man yang pindah kota diseret pekerjaannya. “Kok penghuni baru Ini mau mengatur kita, padahal dianya yang perlu ditatar!” umpat Pak Alit senewen.”Masak kenalan saja belum, kok sudah melontarkan kritik pedas, hunian kita kumuh, warga mengu­ cilkan dia, lha dianya sendiri yang ngumpet, memangnya kita yang harus menghadap? Memangnya dia siapa? Pemimpin organ­ isasi? Hah! Itu kan di Jakarta! Ini Bali, Bu! Pulau Dewata! Menolak pasang bendera lagi! Naik Mercy begitu kok ngaku tidak mampu beli bendera! Brengsek! Bakar saja mobilnya! Pasti dia kira kita iri sama Mercynya! Dasar radikal, sikat saja!” Amat terpaksa turun tangan. Pak Alit yang pernah punya Mercy tapi sudah dijual untuk biaya sekolah putranya, ber­ hasil ditenangkan. Amat janji akan bicara empat mata dengan Bu Jack, penghuni radikal itu.“Selamat sore Bu Jack, saya Amat, tetangga ibu,” sapa Amat sore itu juga di rumah Bu Jack. “Selamat sore. Ada apa Pak, saya mau berangkat ada meeting.” “Ya, sebagai sesama warga apalagi bertetangga saya kira ada baiknya...” “To the point saja, saya bisa terlambat nanti!” “O, ya, maaf, ini soal tradisi kami di sini dalam setiap menghadapi masaalahmsaalah yang menyangkut kebersamaan kami sudah punya tradisi ... .” “Maaf, Bapak salah sambung, saya di sini hanya ngontrak, tidak ada kaitan dengan tradisi. Silakan bicara langsung dengan pemilik rumah! Maaf, saya harus berangkat!” Bu Jack naik mobil. Amat bengong sampai tak keburu menjawab. Esok paginya, Amat datang lagi. Ia langsung nembak. “Ini soal pemasangan sang saka, Bu Jack.” “Sang saka itu apa?” Amat kembali bengong. Ia tak bisa mengatasi kejengkelannya karena orang kaya itu kelihatan sok dan pura-pura. “Bendera merah-putih untuk me­sang saka nyambut HUT ke-72 Proklamasi, Bu Jack” “Kenapa?” “Semua rumah harus memasangnya selama bulan Agustus, itu tradisi kita di sini.” “Terserah. Bicara saja dengan pemilik rumah. Maaf saya sibuk. Saya masih ada briefing!” Amat kembali ditinggal. “Sebenarnya saya bisa saja mendebat dia,” kata Amat kemudian pada Pak Alit,”karena yang bertanggungjawab ter­ hadap rumah dalam kontrak-mengontrak bukan lagi pemilik rumah tapi yang ngontrak!” “Betul! Mestinya Pak Amat kontan pukul dia sebab meninggalkan orang yang sengaja datang ke rumahnya dengan mak­ sud baik, begitu saja, itu tidak sopan, itu sudah penistaan! Apalagi yang dia hadapi Pak Amat senior kita. Itu kurang ajar, Pak! Orang Jakarta itu mesti diberi pelajaran! Bareti Mercynya dengan paku !” “Jangan! Tidak ada gunanya melawan orang kurang ajaran dengan kekuranga­ jaran! Tidak akan ada hasilnya! justru dia akan senang, karena reaksi itulah yang diinginkannya untuk memfitnah kita sudahmenzoliminya! Jangan!” “Jadi bagaimana dong?” Amat berpikir. “Ini bukan watunya berpikir! Kita perlu tindakan cepat, Pak Amat!” “Oke. belikan bendera dari uang kas. Lalu pasang di rumahnya supaya dia malu!” Demikianlah rumah kontrakan yang dihuni warga baru yang menolak pasang bendera itu, jadi mulai ikut mengibarkan sang saka. Sesuai dengan tradisi hunian yang dimulai sejak reformasi. Angin bertiup gembira melambailambaikan bendera. Sang saka berkibar dengan anggunnya Hunian Amat kembali menjadi lautan merah-putih. Warga yakin akan merebut lagi juara menghias hunian di bulan prokla­ masi seperti sudah terjadi berturut-urut sejak 4 tahun terakhir. Tetapi masih ada error. Tengah malam Pak Alit mengetok pintu rumah Amat. “Pak Amat! Warga radikal itu tambah binal!” “Apa pasal Pak Alit?” “Satu: dwi warna yang kita pasang di rumahnya tidak pernah diturunkan waktu malam. Dua: dwi warna dibiarkan kehujanan sehingga merahnya luntur menodai warna putih, mungkin petugas kita sudah korupsi beli bendera murahan. Tiga: “Saya menuntut pengurus hunian!” kata Pak Alit menirukan Bu Jack,” Saya menuntut mereka yang memasangi rumahEspresso saya dengan bendera secara sembrono, sehingga kena angin sedikit saja sudah jatuh menimpa Mercy saya sampai cacad masuk bengkel! Saya tuntut kompensasi 2 juta, bisa lebih, ini kan mobil impor yang special edition!” Amat keselek. Seperti sapi dicocok hidung, dia mengikut Pak Alit yang me­ nyeretnya ke rumah Bu Jack. “Selamat malam, Pak Amat,” sambut Bu Jack yang sudah menantikan Amat. “Saya minta kompensasi karena sudah dipaksa ikut mendukung tradisi yang bukan tanggungjawab saya dan berakibat Mercy saya hancur!” Tegur sapa itu begitu ketus. Pak Alit tak bisa lagi menahan emosi. Tangan­ nya gemetar. Untung Amat sigap dan mencekal tangannya sambil berbisik: “Sabar Pak Alit, macan betina ini terlalu garang, saya curiga. Coba kita jebak.” Lalu Amat berpaling pada Bu Jack sambil tersenyum ramah. “Maaf atas semua ketidaknyamanan ini Bu Jack. Merdeka tidak berarti orang bebas berbuat apa saja semaunya. Merde­ ka berarti membatasi kebebasan dengan ada kemerdekaan orang lain. Silakan tuntut saja semua kesalahan kami!” Bu Jack tak menjawab. Ia cepat-cepat masuk rumah. Pak Alit tak sanggup lagi menahan diri. ia mengeluarkan paku yang sudah disiapkannya, lalu hendak menoreh Mercy Bu Jack. Dengan sigap Amat mem­ bekuk dan menariknya pulang. Esoknya Bu Jack menghilang misterius. Tak pernah muncul lagi. Sebulan kemudian hunian Amat kembali menggondol juara hunian terbaik kali ini dari pusat.Memaknai Hari Kemerdekaan dengan Menghargai Keberagaman Sebuah perjalanan yang tidak mudah bagi sebuah negara multietnik seperti Indonesia, di usianya yang ke 72 tahun di tahun 2017, bangsa Indonesia terus tumbuh menjadi bangsa yang kuat dan semakin diper­ hitungkan di kancah internasional. Tepat pada tanggal 17 Agustus 2017 kemarin, kita memperingati hari ke­ merdekaan yang terbilang sudah tidak muda lagi kalau melihat perbandingan dengan usia manusia. Seluruh warga masyarakat merasakan betapa pent­ ingnya arti kata kemerdekaan. Tetapi, bagi sebagian orang mungkin akan memaknai kemerdekaan sebagai bentuk kebebasan dan segala sesuatu yang berarti tidak terikat. Sehingga terkadang mereka lupa, kalau kebe­ basan yang mereka maknai berlebi­ han justru membuat ketidakbebasan bagi orang lain. Sebagai contoh bagi sebagian orang yang merasa bebas menge­ luarkan pendapat dan berkomentar di akun media sosialnya, seperti menjelekkan, menghina, memfitnah, tanpa dia sadari hinaan, fitnahan dan komentarnya yang negatif tersebut telah membuat orang lain merasa tidak nyaman, sehingga tentu merasa tidak merdeka. Memaknai kemerdekaan har­ usnya dilihat dari sudut pandang, bahwa kita boleh bebas beraktivitas dan melakukan banyak hal yang kita sukai, tetapi dengan catatan bahwabacaan wanita dan keluargaPenerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998jangan sampai melanggar aturan dan membuat orang lain merasa tidak nya­ man atau tidak bebas. Pada prinsipnya, kata “merdeka” dalam artian “bebas” tersebut berarti hidup dengan berpe­ rilaku menghargai perbedaan orang lain. Sehingga kalau Anda mengekang, membuat orang takut atau tidak meng­ hargai bahwa orang lain itu berbeda dengan kita, sama dengan bahwa kita belum merdeka. Sudah banyak teladan para tokohtokoh dunia yang mengajarkan kepada kita tentang perdamaian dengan cara menghormati keberagaman. Sebagai contoh, bagaimana Mahatma Gandhi dengan tiga prinsip hidupnya yaitu Satyagraha, Ahimsa dan Swadesi. Satyagraha berarti sebuah usaha un­ tuk tidak mengenal lelah mencari dan menemukan kebenaran dengan terus belajar dan belajar. Ahimsa yang dimaknai sebagai sebuah perjuangan untuk menghadapi lawan atau musuh dengan tidak melukai atau menyakiti dan membunuh. Sedangkan Swadesi yang berarti berusaha untuk meng­ gunakan dan bangga terhadap hasil karya sendiri. mengajarkan kepada kita, tentang pentingnya perjuangan untuk kebebasan dengan tidak mengena lelah mencari kebenaran tanpa menyakiti orang lain dan dengan bangga menjadi diri sendiri. Sebuah perjuangan untuk hidup rukun dalam keberagaman merupakan usaha yang harus terus kita pertah­I Made Widiantara ankan dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua percaya dan meyakini bahwa setiap makhluk hidup yang ada di bumi diciptakan beranekaragam, baik bentuk, ukuran, jenis dan lain-lainnya, sehingga tidak diragukan lagi bangsa Indonesia terlahir sebagai bangsa yang beragam dan mampu hidup merdeka dengan keberagaman. Layaknya sebagai sebuah tim dalam permainan sepak bola, setiap pemain harus memiliki keterampilan dan posisiyang berbeda dan beragam, sehingga dapat dikatakan sebagai tim. Tidak bisa kita bayangkan, kalau semua pemain sepak bola hanya punya satu kemam­ puan dalam mencetak goal, lantas siapa yang menjaga gawang dan posisi lainnya. Begitupun dalam memaknai keberagaman dalam berbangsa dan bertanah air Indonesia. Kita harus me­ nyadari kalau perbedaan kita membuat bangsa Indonesia menjadi semakin kuat, karena tim yang kuat harus memiliki beragam keahlian yang digunakan dalam mencapai tujuan. Mari kita renungkan di hari ke­ merdekaan ini dengan menghargai bagaimana perjuangan para pahlawan negeri ini yang berasal tidak saja dari satu suku saja, tidak juga dari satu agama saja, tetapi mereka memiliki beragam latar belakang, sehingga saat perjuangannya pun mereka berjuang dengan beragam strategi sehingga bisa merdeka. Mari kita maknai hari kemerdekaan dengan terus berjuang dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang kita miliki(walaupun berbeda dengan orang lain), dan selalu mengupayakan hasil terbaik yang bisa kita lakukan demi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai ini. Yakinlah, bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat dan dihormati sebagai bangsa besar yang memiliki beragam suku budaya, unik dan berbeda dari bangsa lainnya di dunia. Sehingga satu kata yang harus kita catat dan tanamkan pada generasi penerus kita, kalau keberagaman itu adalah modal kuat untuk menjadi bangsa yang kuat dan disegani. Ajarkan kepada anak cucu kita, bagaimana toleransi dan hidup rukun dalam perbedaan, jangan jadikan ala­ san kalau berbeda itu adalah sebuah kelemahan, karena kalau sama berarti kita bukan manusia, mungkin saja ro­ bot, betul tidak? I Made Widiantara Dosen Politeknik Negeri Bali Consultant and Trainer of Personality DevelopmentKata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi (palgunadi@cybertokoh.com). Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi (ngurahbudi@cyber­ tokoh.com). Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini (sri.ardhini@cybertokoh.com), Wirati Astiti (wirati.astiti@cybertokoh.com), Sagung ­Inten (inten.indrawati@cybertokoh.com). Buleleng: Wiwin Meliana (wiwinmeliana22@cybertokoh.com). Jakarta: Diana Runtu (dianaruntu@ cybertokoh.com). NTB: Naniek Dwi Surahmi (naniek.itaufan@cybertokoh.com). Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha (dewaalit@cybertokoh.com),­ I Made Ary ­S upratman (ary refresh@cybertokoh.com). Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama (cepy@cybertokoh.com), Ayu Wika Yuliani (ayu.wika@cybertokoh.com). Se­kretariat: Ayu Agustini (dewi.ayu@cybertokoh.com), Putu Agus Mariantara (agustara85@cybertokoh.com), Hariyono (hariyono@cybertokoh.com). Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.Sudut PandangEdisi 966/ 21 - 27 agustus 2017Kikan Namara23Bangga Jadi Penyanyi “Tujuhbelasan”Dulu lomba sepeda hias menjadi satu mata lomba yang paling difavoritkan oleh anak-anak setiap perayaan HUT Kemerdekaan. Betapa tidak sepeda yang jadi ‘teman’ main seharihari di ‘hari istimewa’ itu dihias secantik mungkin agar bisa memenangkan lomba. Biasan­ ya yang sibuk menghias sepeda bocah kesayangan adalah keluarga seperti ayah-ibu. Tak jarang hiasan sepeda dibuat sangat kreatif sehingga menyerupai bentuk-bentuk tertentu, seperti misalnya pesawat, kapal, dll.Unsur kreativi­ tas dan keinda­ han hiasan sepeda menjadi salah satu obyek penilaian utama dalam lom­ ba tersebut. Terkadang, kostum si bocah pun ikut menjadi bagian pe­ nilaian. Itu juga yang diingat Kikan Namara tentang pengalamannya ikut lomba tujuhbelasan. Lomba sepeda hias, kata pen­ embang hits ‘Bendera’ ini meru­ pakan salah satu mata lomba yang disukainya pada setiap perayaan Hari Kemerdekaan. Sayangnya, suatu ketika kata mantan vokalis Grup Band Kotak, ini, setelah sepedanya dihias dengan kertas crape warna-warni, dirinya lupa memasukkan sepeda ke garasi rumah. “Saya lupa, sepeda habis dihias ditaruh di pekarangan luar, tidak dimasukkan ke garasi. Orang di rumah semua juga lupa. Tak disangka, malam itu hujan turun. Jadi, keesokan harinya ketika saya bersiap-siap akan lomba, melihat sepeda hias yang kemarin tampak bagus sekali sudah compangcamping. Hiasan kertas crape sudah tak berbentuk lagi. Saya langsung nangis sejadi-jadinya.Yah, namanya juga anak-anak ya,” ungkap Kikan mengenang keikutsertaannya dalam lomba tujuhbelasan. “Akhirnya saya dibujuk untuk ikut lomba yang lain. Ya sudah akhirnya saya ikut lomba makan kerupuk,” ucapnya sambil tertawa. Bagi Kikan yang sejak kecil sudah didik cinta Tanah Air oleh orangtuanya, Hari Kemerdekaan memiliki arti yang sangat pent­ ing karena diraih dengan per­ juangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa. Pahlawan yang berasal dari berbagai macam suku, agama, ras dan golongan. Semuanya bersatu-padu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Karenanya, ujar Kikan, dirinya sungguh merasa prihatin dengan situasi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia di mana sikap-sikap intoleransi maupun ujaran-ujaran kebencian terhadap sesama anak bangsa begitu marak, khususnya di media sosial. “Sedih. Bagi saya itu jelas sebuah kemunduran yang tidak seharusnya terjadi. Kita ini adalah bangsa yang besar. Kita be­ sar karena memiliki begitu banyak ragam budaya juga adat istiadat. Kita besar karena kemajemukanitu. Jika kita menilik kembali perjuangan para pahlawan kita yang terdahulu. Mer­ eka memperjuangankan kemerdekaan tanpa memandang perbedaan agama, suku dan ras. Maka saya menjadi miris apabila saat ini, setelah 72 tahun kita merdeka, justru rakyat malah men­ jadi mudah terpecah-belah lewat medsos,” ungkap Ki­ kan yang dinobatkan BNPT (Badan Nasional Penanggu­ langan Terorisme) sebagai ‘Duta Perdamaian’. Menurut wanita yang bernama lengkap Namara Surtikanti, ini, dirinya mem­ punya kepedulian yang amat besar mengenai hal tersebut, kebetulan juga ia adalah ‘Duta Perdamaian’ yang antara lain tugasnya adalah mengkampanyekan agar anak-anak muda ikut menjaga keuntuhan Negara Kesatuan Re­ publik Indonesia, termasuk tidak ikut (terjerumus) dalam gerakan radikalisme dan terorisme. “Saya bersama BNPT melaku­ kan roadshow ke berbagai kota.Panahan Tradisional Nuansa Merah Putih Suasana lapangan panahan tradisional di Istana Taman Jepun, Denpasar berbeda dari hari biasanya. Khusus untuk perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan RI, Jepun Bali Traditional Archery Community menggelar gladhen (lati­ han bersama). Gladhen ini diikuti anggota klub Jepun Bali dan anakanak pengembangan diri panahan tradisional SD Cipta Dharma. Para pemanah tradisional dengan pakaian nuansa merah putih “Kami ingin me­ bersama-sama,” imbuh Ida Ayu Anom Purnama, nampilkan sesuatu yang berbeda. Karena ini istri AA Anom Giri. momen HUT Kemerdekaan RI, kami pun me­ Untuk gladhen spesial HUT Kemerdekaan RI nampilkan nuansa merah putih di sekitar lapan­ ini terdapat enam kategori, target SD (putra, gan. Anak-anak juga memakai pakaian bernuansa putri), target SMP/SMA (putra, putri), target merah putih,” ujar Penglingsir Jepun Bali AA dewasa (putri), dan bandulan dewasa (putra). Anom Giri. Para juara mendapatkan hadiah berupa bing­ Suasana kebersamaan antara anggota klub dan kisan. para orangtua juga terlihat dari sajian disela-sela Ngurah Jaya, salah satu orangtua yang hadir gladhen. Ada yang membawa ayam betutu, air dalam gladhen ini berharap acara serupa sering mineral, es buah, kue, dan hadiah. “Kami ingin dilakukan. “Para senior agar membina para ju­ mempererat tali silaturahmi antara anggota klub niornya. Mudah-mudahan semua bisa berprestasi. dengan keluarga. Ide awal yang sederhana ternyata Yang penting rajin latihan dan rajin belajar,” mendapat respons dari para anggota klub. Akh­ ujarnya. (Ngurah Budi) irnya makanan hingga hadiah kami sediakan secaraKikan Namara Tahun 2017 ini saya menyambangi lima kota di seluruh Indonesia untuk mengumpulkan anak-anak muda yang memiliki kepedulian yang sama. Mereka selama em­ pat hari ikut pelatihan kampanye efektif menangkal radikalisme dan terorisme di dunia maya. Setelah pelatihan, mereka dikukuhkan menjadi Duta Perdamaian dunia maya. “Bagi saya ini adalah salah satu langkah nyata yang bisa saya lakukan untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya. Sebagai seniman atau pekerja seni, ucap Kikan, dirinya memilih untuk menyuarakan kecintaan pada Tanah Air lewat musik. “Saya percaya, musik adalah bahasa yng sangat mudah diterima berbagai kalangan. Saya selalu berseman­ gat untuk melestarikan lagu-lagu nasional yang sudah banyak dilu­ pakan generasi muda sekarang ini,” ungkap ibu dua anak ini, seraya berharap, semoga lewat lagu-lagunya bisa membangkitkan semangat masyarakat Indonesia untuk semakin mencintai Tanah Airnya. Khususnya untuk HUT ke-72 Kemerdekaan Indonesia, Kikan berharap seluruh komponen bangsa, khususnya generasi muda mampu dan memiliki spirit yang sama untuk berkontribusi nyata dalam membangun negeri. “Apa­ paun profesi yang dijalani, mari kita bersama-sama menyatukan optimisme, bergandengan tan­ gan di atas perbedaan, rapatkan barisan untuk Indonesia tercinta,” kata Kikan penuh semangat. Menyinggung tentang aktivitas­ nya di Bulan Kemerdekaan, Kikan menjawab, seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan Kemerdekaan adalah Bulan Penuh Berkah bag­inya. Karena job-job yang datang padanya membanjir lebih dari biasanya. “Alhamdulilah, masih sama seperti tahun-tahun sebe­ lumnya, saya dapat banyak job manggung off air di bulan Agutus. Bahkan job-job sudah ramai sejak awal Agustus. Kebanyakan jobnya terkait dengan Peringatan HUT Kemerdekaan, atau acara-acara yang terkait dengan nasionalisme dan cinta Tanah Air. Undangan datang dari berbagai daerah. Di antaranya adalah pada event Raimuna Nasional yang kini tengah berlangsung di Cibubur. Event ini selain bertepatan dengan HUT Pramuka, juga berdekatan dengan HUT Kemerdeka­ an. Beruntung saya mendapat kesempatan ber­ temu dengan per­ wakilan pandega dan penegak-penegak dari se­ luruh Indonesia. Saya juga berkesempatan manggung di LP Wanita dan Anak Tangerang untuk menghibur mereka da­ lam rangka HUT Kemerde­ kaan, serta menyanyi di Festival International Hello Pacitan di Jawa Tengah,” paparnya panjang lebar. Banyaknya rejeki yang menga­ lir khususnya di Bulan Kemerde­ kaan membuat Kikan mendapat julukan ‘Penyanyi Tujuhbelasan’. Menangapi hal ini, Kikan tertawa dan mengiyakan. Dirinya tidak keberatan dengan julukan terse­ but karena memang pada Bulan Kemerdekaan dia selalu keban­ jiran order lebih dari biasanya. “Hahaha....iya imaj sebagai ‘Pe­ nyanyi Tujuhbelasan’ memang sudah
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks